Malang, pendoposatu.id — Nasib pilu menimpa Dewi Nurmanik (32), warga Jalan Welirang Nomor 52 RT 03 RW 03, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Ibu empat anak ini mengalami preeklampsia berat (keracunan kehamilan) pada kehamilan keempat yang berujung pada gangguan penglihatan serius di kedua mata, bahkan terancam kebutaan permanen.
Kondisi tersebut diungkapkan langsung oleh sang suami, Cristian, buruh harian lepas yang kini menjadi satu-satunya penopang keluarga. Ia menuturkan bahwa preeklampsia yang dialami istrinya awalnya diperkirakan akan membaik seiring stabilnya tekanan darah. Namun, hasil pemeriksaan lanjutan justru menunjukkan kondisi yang jauh lebih mengkhawatirkan.
“Pada kehamilan keempat, istri saya mengalami preeklampsia parah. Awalnya dokter menyampaikan penglihatan akan membaik, tapi setelah diperiksa dokter mata ternyata ditemukan pembengkakan dan pembuluh darah yang saling bersilang,” ujar Cristian, Minggu (4/1/2026).
Cristian menjelaskan, pada usia kehamilan 32 minggu, Dewi mulai mengalami pembengkakan pada mata yang disertai pandangan kabur. Setelah diperiksa bidan, ia langsung dirujuk ke RSUD Kanjuruhan, Kabupaten Malang.
Hasil observasi medis menyatakan Dewi mengalami preeklampsia dengan hipertensi berat, sehingga dokter memutuskan melakukan operasi sesar darurat demi menyelamatkan ibu dan bayi.
Operasi berjalan lancar, namun kondisi penglihatan Dewi justru semakin memburuk pasca persalinan. Pemeriksaan lanjutan oleh dokter mata menemukan adanya pembengkakan retina dan pendarahan akibat pecahnya pembuluh darah di kedua mata.
“Dokter mata menyampaikan ada pembengkakan dan pendarahan. Kami disarankan melakukan foto fundus untuk mengetahui seberapa parah kerusakan mata istri saya,” jelas Cristian.
Hasil foto fundus menunjukkan adanya blind spot akibat pembengkakan retina. Pada mata kiri Dewi ditemukan pembuluh darah yang pecah dan saling bersilangan, menyebabkan pandangan kabur, kilatan cahaya, serta nyeri kepala hebat.
Saat ini Dewi dinyatakan harus segera menjalani terapi suntik bola mata di RS Saiful Anwar (RSSA) Malang guna mencegah kerusakan mata yang lebih parah dan risiko kebutaan permanen.
Selain suntik mata, Dewi juga harus menjalani terapi rutin berupa: kontrol medis setiap minggu, konsumsi vitamin 3 kali sehari
Obat tetes mata 1 kali sehari, terapi pendukung dan pengobatan alternatif 2 kali seminggu namun, keterbatasan ekonomi menjadi kendala utama keluarga ini.
Cristian mengaku kondisi keluarga semakin terpuruk. Dewi kini kesulitan beraktivitas karena penglihatannya sangat terbatas dan sering mengalami pusing hebat. Akibatnya, Cristian terpaksa berhenti bekerja untuk mengurus istri dan keempat anaknya yang masih kecil.
Anak pertama masih TK B, anak kedua PAUD, anak ketiga berusia 2,5 tahun, dan anak keempat baru berusia 1,5 bulan.
“Jangankan mengurus anak, untuk beraktivitas sendiri saja istri saya sering pusing dan tidak kuat,” ungkapnya lirih.
Saat ini mereka tinggal di rumah kontrakan sederhana. Kondisi semakin berat karena orang tua kandung Dewi juga menderita stroke, sementara ibunya telah meninggal dunia. Keluarga besar pun hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Untuk pengobatan mata Dewi, keluarga membutuhkan biaya sekitar Rp25 juta dengan rincian: suntik mata selama 2 bulan (1 kali per bulan) Rp5.000.000 per mata total Rp20.000.000, biaya kontrol, obat-obatan, transportasi, dan foto fundus sekitar Rp5.000.000
Penghasilan Cristian sebagai buruh harian lepas hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, sehingga biaya pengobatan tersebut mustahil dipenuhi tanpa bantuan.
Atas kondisi ini, keluarga Dewi Nurmanik sangat berharap uluran tangan para dermawan serta perhatian pemerintah dan instansi terkait agar pengobatan dapat segera dilakukan demi menyelamatkan penglihatan Dewi.
Bagi masyarakat yang ingin membantu, donasi dapat disalurkan melalui: Rekening BCA Nomor: 123112596 Atas Nama: Dewi Nurmanik. Atau dapat menghubungi langsung keluarga pasien di nomor:0823-3669-1506
Penulis : nes











