Kepanjen: Menelisik Jejak Peradaban Kuno di Jantung Ibu Kota Kabupaten Malang

- Redaksi

Jumat, 25 April 2025 - 17:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pendopo Agung Kabupaten Malang

Pendopo Agung Kabupaten Malang

PENDOPOSATU.ID, KABUPATEN MALANG – Kepanjen, yang telah menjadi ibu kota dan pusat pemerintahan Kabupaten Malang sejak tahun 2008, menyimpan potensi sejarah peradaban masa lampau yang belum sepenuhnya terungkap.

Meskipun kini berkembang pesat dalam sektor perdagangan, infrastruktur, pariwisata, dan jejak-jejak kejayaan kuno di wilayah ini masih menjadi misteri yang menarik untuk diulik.

Budi Hartono, salah satu pegiat Amartya Bhumi Kepanjen yang aktif menelusuri dan mencoba merekonstruksi sejarah Kepanjen, mengatakan secara spesifik banyak temuan-temuan arkeologis seperti arca Ganesha Berdiri ditemukan di sekitar Bendungan Karangkates, Kecamatan Sumberpucung.

Menurutnya, batas wilayah antara Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggala di Kabupaten Malang terlihat jelas, yakni dibatasi oleh Sungai Brantas dan Gunung Kawi.

“Selain itu juga ditemukanya sisa-sisa pos pantau pertahanan Kerajaan Jenggala berupa tembok bata merah, umpak, serta patirtan yang berada di Desa Jenggolo, Kepanjen,” ungkap Budi.

Diduga kuat, jejak peradaban ini berasal dari masa Kerajaan Panjalu dan Jenggala yang ada pada abad ke-11 hingga ke-12 Masehi. Hal tersebut merujuk pada batas wilayah yang ditandai oleh Sungai Brantas dan Gunung Kawi.

“Seperti yang diketahui penetapan Kepanjen sebagai ibu kota Kabupaten Malang sendiri baru terjadi sejak tahun 2008, dan perkembangannya terus berlangsung hingga kini,” tandasnya.

Catatan sejarah juga melibatkan keberadaan tokoh-tokoh kerajaan seperti Mapanji Garasakan, putra Raja Airlangga dan kemungkinan adanya seorang “Panji” atau pangeran yang tinggal di wilayah tersebut.

“Penemuan arca Ganesha di Karangkates mengindikasikan batas wilayah strategis antara Kerajaan Panjalu dan Jenggala, sekaligus berfungsi sebagai penolak marabahaya,” jelasnya.

Hal ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya arca Ganesha Berdiri yang hingga kini masih dapat ditemukan di sekitar Bendungan
Karangkates, di dusun Karangkates Desa Karangkates Sumberpucung Kabupaten Malang.

Baca Juga :  Upacara Sakral di Ketinggian Semeru: Pancasila Berkumandang di Pelataran Candi

“Arca Ganesha berdiri ini ternyata bersifat Vigna Vignecvara, yakni sebagai penghalang/penolak marabahaya, Arca tersebut juga berfungsi sebagai peringatan kepada siapapun yang hendak menyeberangi Sungai Brantas, yang dulunya merupakan batas wilayah kerajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggala,” ujarnya.

Selain itu, pembangunan pos pantau-pertahanan di Jenggolo menunjukkan perhatian Kerajaan Jenggala terhadap potensi serangan dari wilayah Kerajaan Panjalu.

‘Hal ini dapat dibuktikan dengan dibangunnya sebuah pos pantau pertahanan yang terletak di Desa Jenggolo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang,” terang Budi.

Menurutnya pos pertahanan ini, yang kemudian berubah menjadi desa, telah menyisakan beberapa tinggalan, yakni tembok bata merah yang tertimbun sawah, umpak serta patirtan.

“Apakah mungkin hanya sebuah desa memiliki umpak yang begitu indah ukirannya? ini masih menjadi pertanyaan yang menarik di ulas,” tuturnya.

Disekitar umpak sendiri, telah ditemukan tembok batu bata merah yang membujur arah utara-selatan di belakang umpak ini.

“Sayangnya telah banyak yang hilang diangkut sebagian oleh orang yang tidak bertanggung jawab, sedangkan, sisa sebagiannya masih utuh tertimbun di bawah persawahan,” bebernya.

Masih menjadi pertanyaan, apakah ini merupakan tembok pertahanan, ataukah hanya merupakan tembok suatu bangunan, diperkirakan tembok ini memiliki Panjang lebih dari 250 meter.

“Umpak Jenggolo sendiri, yang terdiri dari dua buah umpak -sebuah di sisi selatan dan dua buah di utara, dan terpisah kurang lebih sekitar 500m- ditemukan memiliki ukiran yang sangat indah, bahkan berkelas kerajaan besar,” kata Budi.

Dugaan asal-usul nama “Kepanjen” yang mungkin merujuk pada tempat tinggal seorang “Panji” atau pusat pertemuan para pemimpin kerajaan Hindu juga menjadi alasan penting untuk menelusuri sejarah ini lebih dalam. Hal ini sekaligus untuk menguji kebenaran legenda Raden Panji Pulang Jiwo.

Baca Juga :  SMPN 1 Turen Mantapkan Predikat Sekolah Ramah Anak, Wabup Malang Dorong Penguatan Infrastruktur Pendidikan

“Asal nama kepanjen ini, merujuk pada suatu wilayah yang menjadi pusat pertemuan para pemimpin di zaman kerajaan Hindu, yang kemudian dikenal sebagai desa Kepanjen, karena memang Masyarakat zaman tersebut, menamakan para pemimpin mereka dengan sebutan “Panji,” paparnya.

Penelusuran sejarah dilakukan melalui analisis temuan-temuan arkeologis seperti arca, umpak berukir indah, tembok bata merah kuno, dan patirtan. Selain itu, rujukan pada prasasti kuno seperti Prasasti Turryan yang menyebutkan wilayah Tugaran yang diduga adalah wilayah Tegaron di Kepanjen saat ini, juga menjadi metode untuk merekonstruksi sejarah.

“Hal ini disandarkan pada isi Prasasti Turryan yang menyebutkan adanya wilayah “Tugaran” yang jelas sekali menyebutkan wilayah Tegaron, sebuah wilayah di Desa Panggungrejo, yang ada di Kecamatan Kepanjen sekarang,” lugasnya.

Namun begitu, hipotesis ini masih perlu diperdalam, sekaligus untuk mematahkan pemahaman legenda sejarah selama ini yang menyatakan bahwa nama Kepanjen ini, berasal dari legenda Raden Panji Pulang Jiwo yang berasal dari Madura.

“Potensi warisan sejarahnya yang belum tergali menjanjikan penemuan menarik tentang peradaban masa lalu di wilayah ini. Upaya untuk mengungkap dan melestarikan jejak-jejak kuno ini akan semakin memperkaya identitas dan daya tarik Kepanjen,” pungkasnya.

Sebuah pertanyaan terbersit, Kepanjen adalah Ibukota Kabupaten Malang, apakah hal tersebut hanya sebatas cerita legenda atau pusat kejayaan?

Reka Sejarah Kepanjen yang digagas Amartya Bhumi Kepanjian mencoba membuka sisi lain lembaran sejarah yang masih berserak terakit Kota Kepanjen.

Penulis : Redaksi

Editor : Gus

Berita Terkait

Viral Menu MBG Ramadan di Malang, DPRD Soroti Dugaan Harga di Bawah Rp8 Ribu dan Kualitas Gizi Dipertanyakan
Perkuat Gizi Anak dan Tekan Stunting, Pemkab Malang Resmikan Dapur MBG di Kalipare
Sepak Bola Persahabatan Antar Instansi Pererat Kebersamaan di Kabupaten Malang
Terseret Arus Sungai, Warga Kasembon Malang Tewas Terjepit Pintu Air DAM Kali Manten
Derita Preeklampsia Parah, Warga Kepanjen Kabupaten Malang Terancam Kehilangan Penglihatan, Butuh Uluran Tangan
Cuaca Ekstrem Hambat Penerbangan, Pesawat Batik Air Ditumpangi KH Habib Mustofa Gagal Mendarat di Juanda Surabaya
SMK NU Sunan Ampel Poncokusumo Resmi Terapkan ISO 21001:2018, Perkuat Tata Kelola Pendidikan Vokasi Berstandar Internasional
Sekda Malang: LP Ma’arif NU Harus Berdaya dan Berdampak Nyata

Berita Terkait

Sabtu, 21 Maret 2026 - 04:00 WIB

Arus Mudik Malang Terkendali, Satlantas Pastikan Siaga Penuh dan Antisipasi Puncak Arus Balik

Jumat, 20 Maret 2026 - 17:46 WIB

Arus Mudik Masih Tinggi, Polres Malang Perkuat Siaga di Pintu Tol Jelang Puncak Pergerakan Kendaraan

Rabu, 18 Maret 2026 - 05:33 WIB

Rampcheck Ketat Jelang Mudik Lebaran 2026, Satlantas Polres Malang Pastikan Bus dan Sopir Laik Jalan

Minggu, 15 Maret 2026 - 11:59 WIB

Polres Malang Siagakan 8 Pos Pengamanan dan Pelayanan Mudik Lebaran 2026

Sabtu, 7 Maret 2026 - 10:39 WIB

Pria Ngaku Polisi Rampas Mobil di Tumpang, Pelaku Ditangkap di Singosari

Kamis, 5 Maret 2026 - 20:47 WIB

Polres Malang Buka Penitipan Kendaraan Gratis Selama Mudik Lebaran 2026

Minggu, 1 Maret 2026 - 17:18 WIB

Jual Honda Scoopy Curian via Marketplace, Satreskrim Polres Malang Ringkus Pelaku Saat COD

Rabu, 25 Februari 2026 - 12:21 WIB

Polsek Pakis Tangani Penemuan Mayat Pria Tergantung di Makam Saptorenggo

Berita Terbaru