Isra Mikraj 1447 H, Habib Abdullah Assegaf Ingatkan Krisis Akhlak Manusia Modern

- Redaksi

Sabtu, 17 Januari 2026 - 15:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis artikel: Ketua Komunitas Noto Roso Tumpang Kabupaten Malang, Habib Abdullah bin Idrus bin Agil Assegaf

Penulis artikel: Ketua Komunitas Noto Roso Tumpang Kabupaten Malang, Habib Abdullah bin Idrus bin Agil Assegaf

 

Malang, pendoposatu.id  – Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah/2026 M tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan atau sekadar pengisahan perjalanan luar biasa Rasulullah. Lebih dari itu, Isra Mikraj harus menjadi peringatan serius bagi manusia modern yang hari ini menghadapi krisis akhlak di tengah kemajuan status sosial dan teknologi.

Hal tersebut disampaikan Ketua Komunitas Noto Roso Tumpang Kabupaten Malang, Habib Abdullah bin Idrus bin Agil Assegaf, dalam refleksi keagamaan pada momentum Isra Mikraj. Menurutnya, jika Isra Mikraj hanya dipahami sebagai cerita historis, maka anak kecil pun mampu menghafalnya. Namun, pesan terdalamnya justru terletak pada perubahan akal, hati, dan perilaku manusia.

“Isra Mikraj mengajarkan bahwa Allah mengangkat derajat manusia bukan karena harta, jabatan, atau popularitas, melainkan karena kejujuran hati dan ketaatan,” tegas Habib Abdullah di kediamannya, Sabtu (17/1/2026).

Ia menjelaskan, ukuran kemuliaan sejati tidak pernah ditentukan oleh apa yang tampak di mata manusia, melainkan oleh kualitas batin di hadapan Allah SWT. Bahkan, sebelum dimuliakan hingga Sidratul Muntaha, Rasulullah SAW terlebih dahulu mengalami luka batin di bumi—dicaci, dilempari, ditolak, dan dihina.

“Ini menegaskan bahwa kemuliaan tidak selalu berjalan beriringan dengan kenyamanan. Bahkan manusia paling mulia pun diuji secara sosial dan psikologis,” ujarnya.

Habib Abdullah menilai, pesan Isra Mikraj sangat relevan dengan kondisi masyarakat hari ini. Ia mengingatkan bahwa banyak orang mudah tersulut emosi hanya karena kritik ringan, menyimpan dendam karena cibiran, atau kecewa karena tidak mendapat pujian.

“Kalau baru sedikit dicibir sudah marah, baru dikritik lalu dendam, bisa jadi kita belum benar-benar memahami makna Isra Mikraj,” katanya.

Dalam refleksinya, Habib Abdullah juga menyoroti fenomena manusia modern yang mengalami paradoks moral: naik status tetapi turun adab, bertambah pengikut namun menurun kualitas salat, meningkat jabatan tetapi berkurang empati, serta semakin lantang bersuara namun miskin akhlak.

Baca Juga :  Krisis Murid di SDN 1 Pulungdowo Terbuka, Bupati Malang Tegaskan Sekolah di Bawah Standar Siap Digabung

Menurutnya, Isra Mikraj membawa satu oleh-oleh utama yang sangat fundamental, yakni salat. Bukan zakat, bukan pula haji, melainkan salat yang menjadi terapi jiwa, penyeimbang ego, sekaligus pengendali sosial.

“Salat yang benar tidak berhenti pada gerakan fisik. Ia tercermin dalam sikap hidup—hati lebih tenang, lisan lebih terjaga, tangan ringan menolong, dan pikiran jernih,” jelasnya.

Ia mengingatkan, jika salat hanya menjadi rutinitas sementara kehidupan sehari-hari dipenuhi kebencian dan amarah, maka sejatinya yang naik hanyalah tubuh, sementara hati masih tertinggal di bumi.

Lebih lanjut, Habib Abdullah menegaskan bahwa peringatan Isra Mikraj seharusnya menjadi ruang bercermin, bukan ajang saling menunjuk kesalahan. Pertanyaan paling penting bukan siapa yang paling hafal kisah Isra Mikraj, melainkan siapa yang paling berubah akhlaknya setelah memahaminya.

“Sudahkah salat membuat kita lebih rendah hati? Sudahkah ibadah menjauhkan kita dari kebiasaan menghakimi? Sudahkah ilmu agama melembutkan hati, bukan justru mengeraskannya?” pungkasnya.

Ia menutup refleksinya dengan menegaskan bahwa hakikat Isra Mikraj bukan terletak pada narasi perjalanannya, tetapi pada transformasi akhlak manusia setelah mengetahui dan menghayatinya.

Penulis : nes

Berita Terkait

Sekdin Pendidikan Kabupaten Malang Tekankan Guru Berintegritas, Sekolah Harus Punya Branding
Kadisdik Jatim : Masalah Pendidikan Termasuk MBG, Bisa Dibahas JMSI Jatim
Wisuda 398 Siswa Shirothul Fuqoha’ Jadi Momentum Cetak Generasi Religius dan Siap Hadapi Era Digital
Bibit Perenang Cilik Dari Malang Bermunculan Siap Jadi Atlet Nasional
Wabup Malang Tegaskan Sekolah Terintegrasi Jadi Arah Kebijakan Pendidikan, 10 SMPN Disiapkan Jadi Pilot Project 2026
Bupati Malang Tegaskan Penguatan Sekolah Unggulan, SMPN 1 Bululawang Dinilai Berprestasi namun Masih Kekurangan Sarana
Krisis Murid di SDN 1 Pulungdowo Terbuka, Bupati Malang Tegaskan Sekolah di Bawah Standar Siap Digabung
Bupati Malang Tinjau SMPN 1 Karangploso, Fokus Pada Sekolah Unggulan dan Peningkatan Mutu Pendidikan

Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 17:54 WIB

MPDI Konsolidasikan Kekuatan Ekonomi Pesantren, Koperasi Sekunder Jadi Motor Penggerak Usaha Nasional

Jumat, 26 Juni 2026 - 15:42 WIB

Puluhan Reklame Permanen Diduga Lolos Tanpa Izin, DPMPTSP Kabupaten Malang Kecolongan

Jumat, 26 Juni 2026 - 14:02 WIB

Dukcapil Malang Buka Akses Layanan Publik bagi Warga Rentan, Petugas Datangi Rumah hingga Ruang Perawatan

Jumat, 26 Juni 2026 - 10:41 WIB

Rehab Gedung Kantor Pemkab Pasuruan Sudah Berjalan, Lima Gedung Sudah Terealisasi

Jumat, 26 Juni 2026 - 00:04 WIB

Ajak Diskusi Ketua PWI Jatim, Bakorwil Malang Perkuat Narasi Pengembangan Selatan Jatim Menuju Malang Megapolitan

Kamis, 25 Juni 2026 - 00:43 WIB

Polres Malang Bongkar Modus Penipuan Berkedok Program UMKM Pemprov Jatim, Dua Tersangka Ditangkap

Rabu, 24 Juni 2026 - 17:10 WIB

TP PKK Bakorwil III Malang Dukung Malang Megapolitan Dan Penguatan Ekonomi Selatan Jatim

Rabu, 24 Juni 2026 - 16:23 WIB

Bakorwil Malang Ajak TP PKK Jadi Penggerak Menuju Malang Megapolitan Dan Katalisator Pembangunan Selatan Jatim

Berita Terbaru