Ayo Mondok’ Jadi Ikhtiar Merawat Tradisi dan Masa Depan Bangsa, PPAI Salafiyah Darun Najah Rawat Pendidikan Pesantren Berbasis Zaman

- Redaksi

Senin, 29 Desember 2025 - 09:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ket foto. Dewan Pengasuh I Pondok Pesantren Agama Islam Salafiyah Darun Najah, Gus Masyfu’ Zuhdi bersama para santri usai sholat berjamaah

Ket foto. Dewan Pengasuh I Pondok Pesantren Agama Islam Salafiyah Darun Najah, Gus Masyfu’ Zuhdi bersama para santri usai sholat berjamaah

Spread the love

Malang, pendoposatu.id  – Di tengah derasnya arus modernisasi dan maraknya informasi yang kerap menyudutkan lembaga pendidikan Islam, pondok pesantren kembali menegaskan perannya sebagai pilar utama pembentukan karakter bangsa.

Semangat itu menguat melalui Program Nasional ‘Ayo Mondok’ yang yang diinisiasi oleh Nahdlatul Ulama kini diinternalisasikan dalam sistem pendidikan Pondok Pesantren Agama Islam (PPAI) Salafiyah Darun Najah, Karangploso, Kabupaten Malang.

Pesantren yang berlokasi di Dusun Leses, Desa Ngijo tersebut saat ini menampung sekitar 1.500 santri yang tersebar di PPAI Salafiyah Darun Najah I dan II. Ribuan santri itu tidak hanya menimba ilmu agama, tetapi juga ditempa dengan pendidikan formal, penguasaan bahasa, hingga sains dan teknologi, sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.

Dewan Pengasuh I Pondok Pesantren Agama Islam Salafiyah Darun Najah, Gus Masyfu’ Zuhdi, menegaskan bahwa pesantren memiliki akar sejarah yang sangat kuat dalam perjalanan bangsa Indonesia.

“Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Jauh sebelum kemerdekaan, pesantren telah menjadi pusat perjuangan, pusat pendidikan, sekaligus pusat pembentukan karakter umat,” ungkap Gus Masyfu’ di kediamannya, Minggu malam (28/12/2025).

Namun demikian, ia mengakui bahwa belakangan ini pesantren kerap menjadi sasaran framing negatif yang tidak utuh dan cenderung menyamaratakan.

“Yang sering diangkat justru kasus-kasus tertentu seperti asusila atau pornografi. Padahal jika dilihat secara objektif, itu tidak sampai 0,01 persen dari realitas pesantren secara keseluruhan,” tegas Gus Masyfu’.

Menurutnya, generalisasi tersebut berpotensi mengikis kepercayaan publik terhadap pesantren, sekaligus menutup mata terhadap kontribusi besarnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dari kegelisahan inilah, Gerakan Ayo Mondok hadir sebagai upaya kolektif untuk meluruskan persepsi dan mengembalikan pesantren pada posisi yang semestinya.

“’Ayo Mondok’ bukan sekadar slogan, tetapi ajakan moral agar masyarakat kembali melihat pesantren secara utuh dan adil,” ujarnya.

PPAI Salafiyah Darun Najah dikenal sebagai pesantren berbasis salafiyah yang tetap adaptif terhadap perkembangan zaman. Sistem pendidikan yang diterapkan menggabungkan kajian kitab kuning Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah dengan pendidikan formal dan keterampilan praktis.

Beragam program unggulan dijalankan secara berkesinambungan, mulai dari tahsin dan tahfidz Al-Qur’an, program bilingual Bahasa Arab dan Inggris, hingga integrasi sains dan teknologi. Selain itu, pesantren juga menekankan penguatan soft skills dan kemandirian santri melalui madrasah diniyah dan madrasah Qur’aniyah.

Jenjang pendidikan yang tersedia pun lengkap, mulai dari TPQ, MTs, MA, hingga SMP dan SMA formal terintegrasi, sehingga santri mendapatkan pendidikan menyeluruh tanpa harus meninggalkan lingkungan pesantren.

Gus Masyfu’ Zuhdi menilai bahwa pesantren memiliki keunggulan utama dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan berketauhidan kuat.

“Pesantren itu membangun manusia secara utuh. Akhlaknya dibina, keilmuannya diperkuat, ketauhidannya ditanamkan. Dari sinilah lahir generasi yang punya dampak nyata bagi masyarakat dan bangsa,” tuturnya.

Ia menambahkan, santri yang ditempa dalam sistem pesantren diharapkan mampu memberikan kontribusi luas, baik dalam bidang sosial, budaya, hingga pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Melalui penguatan narasi ‘Ayo Mondok’, PPAI Salafiyah Darun Najah berupaya mengajak generasi muda—terutama mereka yang belum mengenal dunia pesantren—untuk kembali menempatkan pendidikan agama sebagai fondasi utama kehidupan.

“Dengan Ayo Mondok, kita ingin generasi mendatang lebih tertata kehidupannya dan lebih mapan agamanya. Pesantren tetap relevan untuk masa depan bangsa,” pungkasnya.

Pesantren, dengan segala tradisi dan pembaruannya, kembali ditegaskan sebagai tonggak sejarah pendidikan nasional—tempat nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemajuan dirajut dalam satu tarikan nafas.

Penulis : nes

Berita Terkait

Samsat Kepanjen Jemput Bola, Warga Malang Selatan Didorong Taat Pajak Kendaraan
Walikota Blitar Siapkan Skema Baru Dana Olahraga, Hibah Tak Lagi Lewat KONI
Viral Menu MBG Ramadan di Malang, DPRD Soroti Dugaan Harga di Bawah Rp8 Ribu dan Kualitas Gizi Dipertanyakan
Perkuat Gizi Anak dan Tekan Stunting, Pemkab Malang Resmikan Dapur MBG di Kalipare
Sepak Bola Persahabatan Antar Instansi Pererat Kebersamaan di Kabupaten Malang
Terseret Arus Sungai, Warga Kasembon Malang Tewas Terjepit Pintu Air DAM Kali Manten
Derita Preeklampsia Parah, Warga Kepanjen Kabupaten Malang Terancam Kehilangan Penglihatan, Butuh Uluran Tangan
Cuaca Ekstrem Hambat Penerbangan, Pesawat Batik Air Ditumpangi KH Habib Mustofa Gagal Mendarat di Juanda Surabaya

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 12:14 WIB

Polemik Bendungan Lahor, Pak Dur Jadi Tersangka

Jumat, 18 September 2026 - 11:44 WIB

Tak Terima Somasi Pengacara, Abdul Qodir Lapor Pencemaran Nama Baik

Jumat, 18 September 2026 - 10:57 WIB

Proses Penjaringan Bacalon Ketum KONI Kota Blitar Diwarnai Ricuh

Kamis, 17 September 2026 - 19:21 WIB

Jelang Musorkotlub, Rangkap Jabatan KONI Kota Blitar Jadi Sorotan

Kamis, 17 September 2026 - 18:18 WIB

Satlantas Polres Pasuruan Bagikan Hadiah Dalam Tangka HUT Polantas

Selasa, 15 September 2026 - 14:40 WIB

Dugaan Mobilisasi Pelajar dalam Demo, Wakil Wali Kota Blitar Dilaporkan ke Polisi

Senin, 14 September 2026 - 20:28 WIB

63 Pedagang Somasi Abdul Qodir, Dana Swadaya Pasar Karangploso Dipertanyakan?

Senin, 14 September 2026 - 19:27 WIB

Gudang Material di Singosari Terbakar Diduga Akibat Korsleting Listrik

Berita Terbaru

Hadi Wiyono alias Pak Dur saat mendatangi Polres Malang didampingi kuasa hukumnya (Foto: bgs pendoposatu.id)

Hukum

Polemik Bendungan Lahor, Pak Dur Jadi Tersangka

Jumat, 18 Sep 2026 - 12:14 WIB

You cannot copy content of this page