PENDOPOSATU.ID, KAB MALANG – Karang Taruna di Kabupaten Malang didorong untuk keluar dari zona nyaman. Tak lagi sekadar menjadi penyelenggara acara seremonial tahunan atau sibuk membawa proposal, para pemuda desa kini dituntut membawa ide dan bertransformasi menjadi penggerak ekonomi serta benteng sosial di tingkat akar rumput.
Gagasan perubahan paradigma ini mengemuka dalam diskusi panel dan rekaman podcast R2J yang digelar di RKP Gondanglegi, Kabupaten Malang. Diskusi yang rutin digagas setiap bulan ini menghadirkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari jajaran DPRD Kabupaten Malang, akademisi, praktisi hukum, hingga tokoh pemuda lintas etnis.
Anggota DPRD Kabupaten Malang dari Fraksi Gerindra, Mohammad Risqi Irfansyah, menegaskan bahwa pemuda adalah kunci utama dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, peran pemuda desa tidak boleh lagi dierdilkan hanya sebagai pelengkap momen-momen tertentu.
“Kita ingin pemuda Karang Taruna ini multifungsi. Jangan hanya ada saat panitia event. Mereka punya potensi besar untuk membangun dan berkarya buat desanya,” tegas Risqi
“Kedepan, dari sisi regulasi dan anggaran di Dispora, kita di dewan siap support agar kapasitas pemuda ini benar-benar berkembang,” ujar Risqi, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Malang.
Kolaborasi Strategis: Karang Taruna & Kampus
Pandangan senada disampaikan oleh akademisi sekaligus praktisi hukum Yusuf Eko Nahuddin, S.H., M.H. Ia menekankan pentingnya Karang Taruna “naik kelas” menjadi organisasi modern yang mandiri, kreatif, dan akuntabel sesuai amanat Permendagri Nomor 18 Tahun 2018 tentang Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD).
Salah satu langkah konkret yang ditawarkan adalah menggandeng perguruan tinggi untuk memajukan potensi ekonomi lokal.
“Karang Taruna sudah tidak zaman lagi kemana-mana membawa proposal, tapi kemana-mana membawa ide,” tegas Yusuf.
“Coba bayangkan kalau Karang Taruna berkolaborasi dengan kampus. Misalnya ada produk UMKM lokal jamu buatan ibu-ibu RT. Karang Taruna yang paham dunia digital bisa berperan di digital marketing, sementara kampus memberikan edukasi dan pendampingan branding. Produk desa langsung punya daya saing di pasar modern,” lanjutnya.
Selain pemberdayaan ekonomi, sinergi antara pemuda dan perguruan tinggi ini juga disiapkan untuk membuka pelatihan skill bagi remaja putus sekolah, sekaligus membentengi pemuda dari ancaman sosial seperti judi online (judol) dan narkoba.
Terpisah Host acara sekaligus Staf Ajudan Pimpinan DPRD Kabupaten Malang, R. Mansur Awaludin, S.Sos., menjelaskan bahwa ruang diskusi di Studio Podcast R2J diciptakan untuk memangkas sekat antara masyarakat, pemuda, dan pembuat kebijakan.
“Ini ruang bersama untuk menyampaikan aspirasi demi kepentingan publik, tanpa membawa nama kelompok. Kita ingin keberadaan Karang Taruna benar-benar difasilitasi dengan baik oleh pemerintah,” ungkap Mansur.
Ia berharap melalui kegiatan yang digelar ada komitmen penguatan anggaran dari DPRD, dukungan edukasi dari perguruan tinggi, serta semangat kolaborasi anak muda, Kabupaten Malang optimistis mampu mencetak generasi muda yang mandiri, berdaya saing, dan siap menjadi motor penggerak ekonomi desa.
Penulis : Setyo
Editor : Redaksi











