KOTA MALANG, pendoposatu.id. – Badan Koordinasi Wilayah Pemerintahan dan Pembangunan (Bakorwil) III Malang menggagas penyelenggaraan Malangopi Fest 2026 sebagai langkah membangkitkan kembali kejayaan kopi Malang sekaligus memperkuat potensi agroindustri dan ekonomi kawasan.
Festival yang dijadwalkan berlangsung pada 19 November 2026 di Taman Krida Budaya Jawa Timur (Jatim), Kota Malang, ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi untuk mengembangkan ekosistem kopi dari hulu hingga hilir, sekaligus memperluas daya saing produk kopi Malang di pasar internasional.
Potensi tersebut bukan tanpa dasar, permintaan ekspor kopi Kabupaten Malang pernah dilaporkan mencapai 45.000 ton, sementara kemampuan pasokan lokal saat itu sekitar 15.000 ton. Kekurangan pasokan dipenuhi dari daerah lain, termasuk Blitar dan Pasuruan. Kondisi ini menunjukkan besarnya peluang pengembangan produksi lokal sekaligus kebutuhan untuk memperkuat rantai pasok kopi di Malang.
Kabupaten Malang juga dikenal sebagai salah satu sentra produksi kopi utama di Jatim, kawasan Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, dan Dampit memiliki potensi perkebunan kopi yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Kopi Dampit, khususnya, telah dikenal di pasar ekspor dan menjadi salah satu identitas kopi unggulan dari Malang.
Potensi tersebut menjadi landasan bagi Bakorwil Malang untuk mendorong pengembangan kopi tidak hanya sebagai komoditas perkebunan, tetapi juga sebagai kekuatan ekonomi yang melibatkan petani, pelaku industri pengolahan, UMKM, kedai kopi, komunitas, hingga jaringan pemasaran. Kepala Bakorwil Malang, Asep Kusdinar, menyampaikan gagasan tersebut dalam diskusi bersama Wakil Bupati (Wabub) Malang, Lathifah Shohib, di kantor Bakorwil, Jumat (16 Oktober 2026).
“Malang punya akar, potensi, dan sejarah yang sangat kuat sebagai pusat penghasil kopi dan kakao tingkat dunia. Semangat ini yang hendak kita munculkan kembali melalui gelaran Malangopi Fest 2026. Ini bisa jadi solusi kita,” ungkap Asep.
Menurutnya, perkembangan ekosistem produk dan industri kopi di Malang menunjukkan kemajuan yang pesat. Potensi tersebut perlu di orkestrasi melalui kolaborasi lintas sektor agar mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi daerah dan masyarakat.
Asep menilai, pengembangan kopi dan kakao juga relevan dengan grand design Malang Raya Megapolitan, penguatan sektor unggulan daerah perlu berjalan beriringan dengan konektivitas kawasan, pengembangan industri, dan peningkatan daya saing ekonomi lokal.
Dengan pendekatan tersebut, kopi Malang diharapkan tidak hanya unggul dari sisi produksi, tetapi juga memiliki rantai nilai yang semakin kuat melalui peningkatan kualitas, pengolahan, inovasi produk, penguatan identitas, dan perluasan pasar.
Wabup Malang, Lathifah Shohib, menekankan pentingnya kearifan lokal dalam pengembangan Koridor Selatan-Selatan Jatim, khususnya dalam kerangka grand design Malang Raya Megapolitan. Menurutnya, potensi agroindustri kopi dan kakao harus menjadi bagian dari strategi pembangunan kawasan yang berkelanjutan.
“Kopi dari Malang sudah diakui dunia. Buktinya dari angka ekspor kopi dari Malang. Namun, kita masih sangat membutuhkan program kerja inovatif dan kolaboratif untuk membangun keseluruhan ekosistemnya. Agar bisa lebih menjamin keberlanjutan dan keunggulannya,” ujar Lathifah.
Ia menilai pengembangan kopi membutuhkan kerja bersama yang melibatkan pemerintah, petani, pelaku usaha, komunitas, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Penguatan ekosistem menjadi penting agar peluang pasar dapat diimbangi dengan kapasitas produksi, kualitas hasil, dan keberlanjutan usaha.
Dalam diskusi tersebut, Lathifah mengusulkan agar Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, diundang menjadi juri utama lomba seduh kopi pada Malangopi Fest 2026.
“Ibu Khofifah itu sangat ahli dalam hal kopi. Beliau sangat mendalaminya. Semoga beliau berkenan menjadi juri utama dalam Malangopi Fest 2026,” sambungnya.
Rangkaian kegiatan nantinya turut menyemarakkan peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jatim, Hari Jadi ke-1266 Kabupaten Malang, Hari Jadi ke-25 Kota Batu, Hari Pahlawan, serta Hari Disabilitas Internasional 2026.
Ketua Pelaksana Malangopi Fest 2026, Aditya Candra, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan nilai ekonomi dalam ekosistem perkopian Malang Raya sekaligus dikembangkan menjadi agenda tahunan.
“Kita konsepnya dijadikan event rutin tahunan agar keberlanjutannya bisa kita jaga bersama. Prinsip utamanya adalah kolaborasi dan orkestrasi. Kita terbuka. Ini event kita bersama. Semoga bermanfaat untuk kita semuanya,” ungkap Aditya, yang juga merupakan pemilik Wondo Kopie Kawi.(Hms/Dir)












