Uji Kompetensi JPT Pratama Malang Disorot Keras: Diduga Hanya Formalitas, Sarat Kepentingan dan “Titipan”

- Redaksi

Kamis, 16 April 2026 - 14:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Uji kompetensi JPT Pratama di Kabupaten Malang (Foto: bgs pendoposatu.id)

Ilustrasi Uji kompetensi JPT Pratama di Kabupaten Malang (Foto: bgs pendoposatu.id)

Spread the love

MALANG, pendoposatu.id – Pelaksanaan uji kompetensi Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama di lingkungan Pemerintah Kabupaten Malang di ruang rapat Sekretaris Daerah Kota Malang, Kamis (16 April 2026) pagi, menuai sorotan tajam. Proses yang seharusnya menjadi tolok ukur profesionalitas dan objektivitas pejabat eselon II itu justru diduga kuat hanya menjadi formalitas belaka, bahkan disinyalir sarat kepentingan politik dan praktik “titipan”.

Seorang narasumber terpercaya yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, uji kompetensi yang digelar Pemkab Malang tidak mencerminkan mekanisme penilaian yang objektif dan transparan. Ia menilai, proses tersebut berpotensi besar dimanfaatkan sebagai alat legitimasi untuk mengakomodasi kepentingan kepala daerah dalam merotasi pejabat.

“Menurut saya, uji kompetensi yang dilakukan Pemkab Malang itu hanya formalitas. Bukan benar-benar uji kompetensi, tetapi justru dijadikan cara untuk memuluskan atau menjatuhkan keinginan pimpinan dalam merotasi eselon II,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa posisi kepala daerah sebagai Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) memiliki kewenangan besar dalam menentukan nasib pejabat eselon II. Kewenangan ini, jika tidak diimbangi sistem yang transparan, membuka celah intervensi dalam proses uji kompetensi.

“Seorang kepala daerah dengan kuasanya sebagai PPK bisa saja memutasi pejabat eselon II yang disukai atau tidak disukai melalui mekanisme uji kompetensi ini,” ungkapnya.
Kritik juga diarahkan pada metode pelaksanaan uji kompetensi yang dinilai masih manual dan berbasis rekomendasi. Sistem seperti ini dianggap rentan dimanipulasi karena hasil akhirnya sangat bergantung pada penilaian subjektif.

“Sepanjang uji kompetensi dilakukan secara manual seperti sekarang, hasil penilaiannya tidak akan bisa valid. Karena hanya berupa rekomendasi, dan rekomendasi itu sangat tergantung pada justifikasi kepala daerah,” katanya.

Ia bahkan menyinggung kemungkinan adanya praktik “pesanan” dalam penilaian. Menurutnya, jika seorang pejabat tidak lagi disukai, maka sangat mungkin hasil uji kompetensinya dibuat rendah. Sebaliknya, pejabat yang dianggap dekat bisa saja mendapatkan nilai tinggi tanpa dasar objektif.

“Kalau kepala daerah sudah tidak suka dengan pejabat tertentu, sangat mungkin tim uji kompetensi ‘dititipi’ untuk menilai kurang. Tapi kalau disukai, bisa saja dinilai baik bahkan sangat baik,” ujarnya lugas.

Secara prinsip, uji kompetensi seharusnya menjadi instrumen untuk memastikan pejabat menduduki jabatan sesuai kapasitas dan kinerja. Namun jika sejak awal sudah dilandasi kepentingan “like and dislike”, maka hasilnya dinilai tidak akan mencerminkan kualitas yang sesungguhnya.

“Tujuan utama uji kompetensi itu baik, kalau dilaksanakan dengan baik hasilnya juga baik. Tapi kalau dasarnya suka dan tidak suka, ujung-ujungnya hanya jadi alat rotasi, bahkan bisa berakhir menjadi staf ahli,” tambahnya.

Sorotan paling mencolok muncul pada jumlah peserta uji kompetensi yang dinilai tidak wajar. Dari total sekitar 21 pejabat eselon II di Kabupaten Malang, hanya 8 Kepala OPD dan 1 Asisten yang mengikuti uji kompetensi.
Kondisi ini memunculkan tanda tanya besar terkait transparansi dan dasar penentuan peserta.

“Yang jadi pertanyaan, kenapa hanya 8 Kepala OPD dan satu Asisten yang mengikuti uji kompetensi, padahal jumlah keseluruhan ada 21 pejabat. Ada apa ini?” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak Pemerintah Kabupaten Malang terkait mekanisme, kriteria peserta, maupun transparansi hasil uji kompetensi tersebut.

Dugaan kuat adanya praktik tidak sehat dalam proses ini pun semakin menguat, dan publik menuntut keterbukaan serta akuntabilitas penuh dari pemerintah daerah.(Dir)

Penulis : Red

Berita Terkait

Hari Strok Sedunia RSUD Bangil Gelar Edukasi Kesehatan Gratis
Peringati Hari Jadi ke-821 Warga Ikuti Senam Akbar Dan Bhakti Sosial
Kali Agir Dinormalisasi Hilangkan Sedimentasi Jelang Musim Hujan
Trans Jatim Koridor 2 Buka Jalur Baru Ekonomi Malang Selatan
UPT Bapenda Jatim Wilayah Pasuruan Jemput Bola Sosialisasi Pemutihan Pajak Bermotor
Polres Pasuruan Berhasil Tangkap 4 Tersangka Dugaan Pengemasan Ulang Beras SPHP
Aliansi Lembaara Tora Tuntut Sengketa Agraria Dan Mafia Tanah
Semangat Sumpah Pemuda, Anggota DPRD Tulungagung Serukan Persatuan Dan Perang Lawan Narkoba

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 18:08 WIB

Hari Strok Sedunia RSUD Bangil Gelar Edukasi Kesehatan Gratis

Senin, 2 November 2026 - 13:06 WIB

Peringati Hari Jadi ke-821 Warga Ikuti Senam Akbar Dan Bhakti Sosial

Minggu, 1 November 2026 - 15:36 WIB

Golkar Tulungagung Hadirkan Ruang Bertemu Jodoh Lewat “Golek Garwo”

Minggu, 1 November 2026 - 12:28 WIB

Kali Agir Dinormalisasi Hilangkan Sedimentasi Jelang Musim Hujan

Minggu, 1 November 2026 - 12:14 WIB

Trans Jatim Koridor 2 Buka Jalur Baru Ekonomi Malang Selatan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 11:28 WIB

Polres Pasuruan Berhasil Tangkap 4 Tersangka Dugaan Pengemasan Ulang Beras SPHP

Kamis, 29 Oktober 2026 - 19:58 WIB

Aliansi Lembaara Tora Tuntut Sengketa Agraria Dan Mafia Tanah

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:40 WIB

Semangat Sumpah Pemuda, Anggota DPRD Tulungagung Serukan Persatuan Dan Perang Lawan Narkoba

Berita Terbaru

Normalisasi Sungai Agir Kecamatan Wagir kabupaten Malang (Foto: Seno pendoposatu.id)

Kabupaten Malang

Kali Agir Dinormalisasi Hilangkan Sedimentasi Jelang Musim Hujan

Minggu, 1 Nov 2026 - 12:28 WIB

You cannot copy content of this page