Malang, pendoposatu.id — Kesadaran akan pentingnya ketahanan pangan dan nilai integritas mendorong Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, menghadirkan sebuah inovasi sosial berbasis edukasi dan pemberdayaan.
Melalui program bertajuk “Panen Kejujuran”, lingkungan Kantor Kecamatan Pakisaji kini tidak hanya menjadi pusat pelayanan publik, tetapi juga ruang pembelajaran nilai kejujuran dan kemandirian ekonomi.
Program tersebut diinisiasi langsung oleh Camat Pakisaji, Endah Sriyati, S.IP., dan dijalankan bersama aparatur sipil negara (ASN) setempat. Sejak diluncurkan, Panen Kejujuran mendapat respons positif, baik dari internal kecamatan maupun masyarakat sekitar.
Endah Sriyati mengungkapkan, gagasan Panen Kejujuran berawal dari keprihatinan terhadap isu ketahanan pangan nasional yang kian mengemuka. Dari diskusi sederhana, muncul keinginan untuk memanfaatkan potensi lingkungan sekitar kantor agar lebih produktif dan memberi manfaat nyata.
“Awalnya kami berpikir, di sekitar kita sebenarnya banyak potensi yang bisa dimaksimalkan. Mulai dari ikan, menanam sayur, sampai akhirnya kami melihat di media sosial tentang ternak ayam petelur. Karena setiap hari bertelur, ini kami nilai ide yang bagus dan berkelanjutan,” ujar Endah saat diwawancarai awak media di Kantor Kecamatan Pakisaji, Selasa (6/1/2026).

Ide tersebut kemudian diwujudkan dengan memelihara 30 ekor ayam petelur. Seiring waktu, jumlahnya kini menjadi 24 ekor ayam petelur dan enam ekor ayam kampung yang secara rutin menghasilkan telur setiap hari.
Keunikan Panen Kejujuran terletak pada cara pemasaran hasil ternak. Telur ayam dijual melalui warung kejujuran tanpa penjaga. Pembeli bebas mengambil telur sesuai kebutuhan dan membayar sendiri ke tempat yang telah disediakan.
“Silakan ambil berapa saja, harganya sudah ada. Uangnya ditaruh sendiri. Inilah yang kami sebut Panen Kejujuran. Kami ingin menanamkan nilai kejujuran sejak dini sampai usia tua, karena kejujuran itu mata uang yang berlaku di mana-mana,” tegas Endah.
Tak berhenti pada penjualan telur, Panen Kejujuran juga dikembangkan secara terintegrasi dengan kegiatan sosial dan kesehatan.
Setiap Jumat, Kecamatan Pakisaji rutin menggelar senam bersama yang bekerja sama dengan klinik jantung dan tenaga medis. Kegiatan ini memberi ruang bagi masyarakat untuk berolahraga sekaligus memeriksakan kondisi kesehatan.
“Setiap Jumat pertama biasanya ramai. Pesertanya guru SD, kepala TK dan PAUD, hingga guru olahraga. Dari kegiatan ini, UMKM Pakisaji juga ikut bergabung, sehingga suasananya makin hidup dan penuh sinergi,” jelasnya.
Selain beternak ayam, Kecamatan Pakisaji juga mengembangkan budidaya ikan nila dan lele, kebun tomat, serta hidroponik sederhana tanpa listrik dengan memanfaatkan galon bekas. Galon-galon tersebut bahkan disulap menjadi hiasan berbentuk angsa yang mempercantik lingkungan kantor.
“Kami juga sempat mencoba budidaya lobster, tapi karena faktor cuaca Malang yang dingin belum berhasil. Sekarang kolamnya kami manfaatkan kembali untuk lele. Prinsip kami sederhana, terus mencoba dan terus belajar,” imbuh Endah.
Di akhir, Endah menegaskan bahwa Panen Kejujuran bukan sekadar program ketahanan pangan, melainkan sarana menanamkan nilai integritas dalam kehidupan sehari-hari. Program ini lahir dari kebersamaan ASN tanpa orientasi lomba atau penghargaan.
“Sebagai ASN, integritas itu wajib. Pelayanan publik sekarang sudah tidak berbayar dan regulasinya jelas. Melalui Panen Kejujuran ini, kami ingin memberi contoh nyata bahwa kejujuran bisa dimulai dari hal-hal kecil,” tandasnya.
Dengan pendekatan sederhana namun sarat makna, Panen Kejujuran dinilai menjadi salah satu inovasi sosial Kecamatan Pakisaji yang mengedepankan integritas, kebersamaan, serta kebermanfaatan nyata bagi masyarakat luas.
Penulis : nes











