KOTA MALANG, Pendoposatu.id – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Malang menggelar Malam Renungan dan Refleksi untuk memperingati peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli) di Kantor DPC PDI Perjuangan Kota Malang, Minggu (26/7/2026) malam.
Agenda tahunan tersebut digelar tidak hanya sekadar untuk mengenang tragedi politik masa lalu, melainkan juga untuk mempertegas bahwa demokrasi Indonesia lahir dari keberanian melawan pembungkaman, sekaligus sebagai ikhtiar mencegah terulangnya kekerasan politik di masa depan.
Demokrasi lahir dari keberanian, bukan kenyamanan
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, menegaskan bahwa peristiwa Kudatuli merupakan pengingat penting bagi seluruh kader dan masyarakat bahwa demokrasi yang dinikmati hari ini dibayar dengan pengorbanan besar.
“Peristiwa Kudatuli bukan sekadar catatan sejarah. Ini adalah pengingat bahwa demokrasi tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari keberanian untuk mempertahankan kebenaran,” ujar Amithya saat membuka acara.
Amithya mengutip pesan Proklamator RI, Bung Karno, bahwa bangsa yang melupakan sejarah pasti akan kehilangan arah. Oleh karena itu, ia meminta seluruh kader agar diskusi sejarah tidak berhenti pada romantisasi masa lalu semata, melainkan mampu memberikan refleksi kritis untuk menjaga kedaulatan partai dan konstitusi.
Perspektif pakar FISIP Unair: belajar sejarah untuk cegah kekerasan politik
Malam refleksi peristiwa Kudatuli PDI Perjuangan Malang ini turut menghadirkan Kepala Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof. Dr. Airlangga Pribadi Kusman, S.IP., M.Si., guna memberikan pemahaman sejarah secara akademis dan objektif.
Prof. Airlangga menekankan pentingnya menjadikan pengetahuan tentang Peristiwa Kudatuli sebagai fondasi dalam membangun kehidupan politik yang lebih dewasa dan bebas dari intimidasi.
“Kita tidak hanya memutar kembali ingatan tentang apa yang terjadi 30 tahun lalu. Yang lebih penting adalah belajar dari sejarah agar demokrasi Indonesia terus berkembang tanpa kekerasan, intimidasi, dan pembungkaman,” tegas Airlangga.
Ia menambahkan, generasi muda perlu memahami bahwa dinamika pengorbanan dan perjuangan panjang merupakan harga yang harus dibayar demi terwujudnya Reformasi 1998.
Kudatuli sebagai simbol perlawanan dan penjaga konstitusi
Peristiwa Kudatuli dikenang sebagai pemicu menguatnya gerakan reformasi nasional. Bagi PDI Perjuangan, momen ini menjadi simbol perlawanan terhadap rezim pembungkaman sekaligus benteng dalam mempertahankan hak berdemokrasi, hak asasi manusia (HAM), dan kebebasan menyampaikan aspirasi.
Melalui kegiatan refleksi ini, DPC PDI Perjuangan Kota Malang berkomitmen untuk terus merawat semangat perjuangan Kudatuli agar kebebasan politik dan penghormatan terhadap konstitusi tetap terjaga.(Gus)
Penulis : Agus Setyo
Editor : Redaksi










