MALANG, pendoposatu.id– Rumah singgah pribadi Presiden RI ke-2 Soeharto di Desa Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, kembali menjadi perhatian publik. Pasalnya, warga setempat berencana membeli bangunan bersejarah tersebut secara swadaya agar keberadaannya tetap terjaga dan dapat menjadi bagian dari sejarah Desa Lebakharjo yang dikenal sebagai Desa Pramuka.
Aspirasi tersebut disampaikan warga kepada Anggota DPRD Kabupaten Malang, Amarta Faza, saat melakukan kunjungan ke Desa Lebakharjo. Dalam pertemuan tersebut, warga menyampaikan keinginan untuk mempertahankan rumah yang pernah digunakan Soeharto sebagai tempat beristirahat atau singgah saat Perkemahan Wirakarya Asia Pasifik (PW ASPAC) pada tahun 1978.
Menurut Amarta Faza, rencana pembelian rumah singgah tersebut merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap keberadaan bangunan yang memiliki nilai sejarah.
“Warga menyampaikan kepada saya bahwa mereka berencana membeli rumah singgah Pak Harto dengan swadaya masyarakat. Ini merupakan bentuk kepedulian warga untuk menjaga peninggalan sejarah yang ada di Lebakharjo,” kata Faza saat dihubungi via telpon, Rabu (23 September 2026).
Ia mengungkapkan, aspirasi tersebut sebelumnya juga telah disampaikannya kepada Bupati Malang. Pemkab Malang, kata dia, memiliki rencana untuk ikut mengambil langkah terhadap keberadaan bangunan tersebut setelah dilakukan penghitungan nilai oleh tim appraisal.
“Saya juga pernah menyampaikan rencana warga ini kepada Bupati Malang. Informasinya, Pemkab Malang akan melihat dan menghitung terlebih dahulu nilai bangunan tersebut melalui tim appraisal,” ujarnya.
Faza menilai keberadaan rumah singgah tersebut tidak hanya berkaitan dengan bangunan fisik, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan sejarah kegiatan kepramukaan di Kabupaten Malang. Rumah singgah tersebut diketahui merupakan bangunan pribadi milik warga setempat bernama Sunarto, bangunan sederhana dengan dinding anyaman bambu atau gedek itu berada sekitar 50 meter dari Monumen Patung Pramuka Penegak dan Pandega.
Rumah tersebut menjadi salah satu penanda sejarah perjalanan Desa Lebakharjo sebagai kawasan yang memiliki hubungan kuat dengan kegiatan kepramukaan internasional. Lebakharjo bahkan tercatat pernah menjadi tuan rumah dua kegiatan perkemahan berskala internasional, yakni Perkemahan Wirakarya Asia Pasifik (PW ASPAC) 1978 dan Community Development Camp (COMDECA) 1993.
Bagi masyarakat setempat, keberadaan rumah singgah Soeharto menjadi bagian dari jejak sejarah yang masih tersisa hingga sekarang. Bangunan yang sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa Desa Lebakharjo pernah menjadi lokasi penting dalam kegiatan kepramukaan tingkat Asia Pasifik.
“Harapannya, keberadaan rumah singgah ini tetap dipertahankan. Jangan sampai bangunan yang memiliki nilai sejarah justru hilang karena tidak ada upaya untuk merawat dan melestarikannya,” tuturnya.
Rencana pembelian secara swadaya oleh masyarakat maupun kemungkinan keterlibatan Pemkab Malang kini menjadi bagian dari upaya untuk menentukan masa depan bangunan tersebut, nilai pembelian masih menunggu proses penghitungan dari tim appraisal apabila rencana Pemkab Malang dilanjutkan. Dengan lokasinya yang berdekatan dengan kawasan monumen pramuka, rumah singgah tersebut berpotensi menjadi bagian dari kawasan sejarah dan edukasi kepramukaan di Desa Lebakharjo.(Nes)












