Sekolah Unggulan Disorot, Merger SDN Tak Terhindarkan: DPRD Malang Ungkap Akar Masalah Pendidikan

- Redaksi

Kamis, 12 Februari 2026 - 19:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ket foto. Anggota DPRD kabupaten Malang Komisi IV, Zulham Mubarok

Ket foto. Anggota DPRD kabupaten Malang Komisi IV, Zulham Mubarok

Malang, pendoposatu.id – Anggota DPRD Kabupaten Malang Komisi IV, Zulham Ahmad Mubarok, melontarkan pernyataan tegas dan berani terkait kebijakan sekolah unggulan, merger SDN, serta minimnya siswa dan SDM tenaga pendidik di Kabupaten Malang. Dalam wawancara di Pendopo Agung, Kamis (12/2/2026), ia menegaskan bahwa problem pendidikan di Kabupaten Malang sudah bersifat akumulatif dan tidak bisa diselesaikan dengan program parsial.

“Kalau secara umum, kualitas pendidikan di Kabupaten Malang ini bagi kami adalah yang utama. Tapi faktanya hari ini masih banyak sekolah yang belum layak, baik dari sisi fasilitas maupun SDM. Ini problem akumulatif, bukan terjadi tahun ini saja,” tegas Zulham.

Zulham membeberkan data yang mengkhawatirkan: angka anak putus sekolah di Kabupaten Malang mencapai sekitar 19 ribu anak. Menurutnya, kondisi ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan program-program simbolik.

“Tingkat anak putus sekolah kita itu 19 ribu sekian. Ini angka yang tidak kecil. Apakah sekolah unggulan mampu menyelesaikan masalah substansial? Saya berani jawab, belum tentu,” ujarnya lugas.

Ia menambahkan, banyak anak yang sudah ditarik kembali ke sekolah justru enggan melanjutkan pendidikan karena sudah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri.

“Faktanya ketika anak-anak putus sekolah ini kami tarik lagi ke sekolah, mereka kadang memang tidak mau. Karena sudah bekerja, sudah punya pendapatan. Jadi ini bukan sekadar urusan dinas pendidikan saja, tapi butuh kolaborasi lintas sektor,” tandasnya.

Terkait program sekolah unggulan yang menjadi bagian dari program nasional, Zulham mengaku tidak bisa menolak karena merupakan program Presiden. Namun ia meragukan efektivitasnya dalam menyentuh akar persoalan.

“Sekolah unggulan ini program Presiden, tentu tidak bisa ditolak. Tapi apakah mampu menyelesaikan masalah yang substansial? Belum pasti,” katanya.

Baca Juga :  MTs Negeri 7 Malang Luncurkan Karya Batik dan Literasi Siswa, Bupati Malang Beri Apresiasi

Hal serupa juga ia sampaikan mengenai sekolah rakyat.

“Sekolah rakyat itu solusi, tapi hanya menyelesaikan ujungnya saja. Coba dicek, kapasitasnya berapa dibanding kebutuhan kita? Tidak akan bisa meng-cover semuanya,” tegasnya.

Menurutnya, solusi mendasar justru terletak pada kebijakan anggaran yang detail dan berbasis program.

Zulham menyoroti anggaran pendidikan Kabupaten Malang yang mencapai sekitar Rp1,6 triliun. Namun sebagian besar terserap untuk belanja rutin.

“Anggaran pendidikan 1,6 triliun itu mayoritas untuk belanja rutin, gaji guru, operasional. Sisanya yang harusnya untuk pembangunan fasilitas dan peningkatan kualitas, ternyata tidak optimal,” ungkapnya.

Ia bahkan menilai anggaran pendidikan 20 persen dari APBD yang diamanatkan undang-undang perlu dihitung ulang secara lebih rigid dan transparan.

“Kita akan coba kaji. Kalau 20 persen ya 20 persen saja, tapi harus jelas. Pembangunan fisik sekolah rusak jangan dibebankan ke anggaran pendidikan. Masukkan ke Dinas Cipta Karya. Jadi anggaran pendidikan lebih terukur dan tidak campur aduk,” jelasnya.

Menurutnya, selama ini pengelolaan anggaran masih “dijadikan satu” sehingga tidak fokus dan sulit dievaluasi.

Masalah lain yang disoroti adalah banyaknya jabatan kepala sekolah yang masih dijabat pelaksana tugas (PLT).

“PLT kepala sekolah itu masih ratusan. Ini tidak sehat untuk tata kelola pendidikan,” katanya.

Ia juga menyinggung ketimpangan distribusi guru. Ada sekolah yang muridnya banyak tetapi gurunya kurang, sementara di tempat lain murid sedikit justru gurunya berlebih.

“Pemerataan ini hanya bisa dilakukan pemerintah. Mau tidak mau ya harus merger. Pasti ada yang protes, orang tua dan murid tidak semua setuju. Tapi ini risiko kebijakan,” ujarnya tegas.

Menurut Zulham, merger SDN adalah solusi pahit yang tidak bisa dihindari.

Baca Juga :  Kapolsek Tumpang Merespon Langsung Saran dan Keluhan masyarakat Melalui Jumat Curhat

“Kita telan saja pahitnya. Mungkin hari ini terasa berat, tapi lima tahun ke depan kita rasakan hasilnya. Karena problem kita cuma tiga: sekolah rusak, pemerataan guru, dan kesejahteraan guru. Tiga ini tidak pernah selesai,” tandasnya.

Zulham juga memberi sinyal keras kepada Kepala Dinas Pendidikan yang baru menjabat.

“Saya optimistis karena beliau masih muda dan saya tahu cara kerjanya. Kita tunggu gebrakannya. Tapi kalau enam bulan tidak ada gebrakan, ya kita usulkan digeser saja,” ujarnya tanpa tedeng aling-aling.

Pernyataan ini menjadi alarm serius bahwa DPRD Kabupaten Malang tidak akan tinggal diam melihat carut-marut pendidikan yang terus berulang setiap tahun.

Dengan angka putus sekolah yang tinggi, sekolah rusak, distribusi guru timpang, dan anggaran yang dinilai belum optimal, DPRD menegaskan bahwa reformasi pendidikan di Kabupaten Malang tidak boleh lagi setengah hati. Kebijakan harus berani, terukur, dan berpihak pada penyelesaian akar masalah, bukan sekadar program pencitraan.

Penulis : nes

Berita Terkait

Disdik Kabupaten Malang Pastikan TKA 2026 Objektif, Hasil Jadi Pertimbangan Masuk Sekolah Unggulan
Dinkes Kabupaten Malang Catat 140.137 Balita Ditimbang, Stunting Turun 0,67 Persen pada Februari 2026
Longsor Dalisodo Tutup Jalan, BPBD Hentikan Evakuasi Sementara
Halalbihalal PGRI Lawang Himpun 600 Lebih Insan Pendidikan, Perkuat Soliditas Guru di Kabupaten Malang
R2J Diluncurkan, Advokat dan Legislator Siap Bongkar Persoalan Publik Kabupaten Malang
Laga Arema FC vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan Dinilai Abaikan Luka Tragedi Kanjuruhan
Manajemen Baru Wendit Buka Suara Soal Tunggakan CCTV, Klaim Masih Audit Proyek Lama
Kadinkes Malang Tegas: Dugaan Upeti Emas BPJS Tak Terbukti

Berita Terkait

Selasa, 10 Maret 2026 - 19:44 WIB

Rutan Bangil Bagikan Takjil Gratis kepada Pengendara di Bulan Ramadan

Rabu, 11 Februari 2026 - 19:16 WIB

SMPN 2 Bangil Gelar Lomba Dies Natalis 2026, Cetak Generasi Emas 2045 Bermental Juara

Sabtu, 7 Februari 2026 - 22:32 WIB

Kasus PMK Merebak di 24 Kecamatan, 148 Ekor Ternak Terdampak, Pemkab Pasuruan Gaspol Vaksinasi 10 Ribu Dosis

Jumat, 30 Januari 2026 - 11:48 WIB

Program Makan Bergizi Gratis Dinilai Tidak Merata, Ketua DPRD Pasuruan Soroti Pelaksanaan MBG yang Pilih-Pilih

Rabu, 28 Januari 2026 - 04:15 WIB

Polres Pasuruan Bongkar 25 Kasus Narkotika Januari 2026, Amankan 46 Tersangka dan 5 Kilogram Lebih Sabu

Jumat, 19 September 2025 - 07:58 WIB

DPRD Pasuruan Abaikan Aspirasi Publik, LSM Ampuh Nusantara Ancam Pengerahan Massa

Kamis, 18 September 2025 - 16:01 WIB

Upacara Khidmat Hari Jadi Pasuruan ke-1096 Jadi Momentum Kebangkitan Daerah

Sabtu, 30 Agustus 2025 - 20:02 WIB

Doa Bersama untuk Kedamaian Negeri, AJPB Pasuruan Ajak Masyarakat Bersatu

Berita Terbaru

Ket foto. Kasihumas Polres Malang, AKP Bambang Subinajar saat memberikan keterangan pada awak media

Polres Malang

Polres Malang Bekuk Pelaku Pembobolan Rumah Saat Warga Salat Id

Rabu, 8 Apr 2026 - 17:07 WIB

Ket foto. Alat berat dikerahkan untuk membersihkan longsoran tanah yang menutupi jalan di Desa Dalisodo Wagir

Kabupaten Malang

Longsor Dalisodo Tutup Jalan, BPBD Hentikan Evakuasi Sementara

Rabu, 8 Apr 2026 - 16:59 WIB