Tajuk, pendoposatu.id – Peringatan Hari Lahir (Harlah) 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana, Kota Malang, Minggu (8/2/2026), bukan sekadar perayaan usia sebuah organisasi keagamaan. Kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto di hadapan puluhan ribu warga NU menjadikan forum itu sebagai panggung penting penegasan arah kebangsaan di tengah tantangan serius persatuan nasional.
NU genap berusia satu abad dengan rekam jejak panjang sebagai penjaga keseimbangan antara Islam, tradisi, dan negara. Dalam sejarah Republik, NU tak pernah absen saat bangsa ini berada di persimpangan jalan. Dari masa revolusi, transisi demokrasi, hingga era kontemporer yang ditandai polarisasi sosial dan politik, NU konsisten memainkan peran peneduh. Maka, pesan persatuan yang disampaikan Prabowo di hadapan warga NU bukan sekadar retorika, melainkan tuntutan sejarah.
Pidato Presiden yang menekankan prinsip mikul dhuwur mendem jero patut dibaca sebagai peringatan keras terhadap menguatnya politik kebencian dan dendam di ruang publik. Indonesia hari ini menghadapi ancaman fragmentasi sosial yang kian nyata—perbedaan pilihan politik, tafsir agama, hingga identitas kerap dipelihara menjadi alat konflik. Dalam konteks ini, NU kembali ditempatkan sebagai jangkar moral bangsa.
Namun, persatuan tidak cukup hanya diserukan. Ia harus dibuktikan melalui kebijakan dan keteladanan. Komitmen Prabowo untuk menurunkan biaya haji dan membangun Kampung Haji Indonesia di Makkah menjadi ujian nyata keberpihakan negara kepada umat. Jika terealisasi, kebijakan ini bukan hanya terobosan pelayanan ibadah, tetapi juga simbol kehadiran negara dalam menjawab problem struktural yang selama ini dikeluhkan jutaan calon jemaah.
Pernyataan bahwa Indonesia memperoleh izin kepemilikan lahan di Makkah—yang disebut sebagai pertama kali dalam sejarah Arab Saudi—merupakan klaim besar yang menuntut pembuktian konkret. Publik berhak menagih transparansi, kepastian waktu, serta dampak langsung kebijakan tersebut terhadap biaya dan kualitas penyelenggaraan haji. Di titik inilah pidato kenegaraan harus bertransformasi menjadi kerja pemerintahan yang terukur.
Harlah 1 Abad NU juga mengingatkan bahwa toleransi bukan jargon kosong. Kisah keterlibatan gereja di Kota Malang dalam mendukung kegiatan keagamaan NU menegaskan bahwa kebhinekaan Indonesia masih hidup di akar rumput. Warisan pemikiran Gus Dur tentang kemanusiaan dan keberagaman menemukan relevansinya kembali, justru ketika ruang publik sering dipenuhi suara eksklusif dan saling meniadakan.
Bagi Prabowo, NU bukan hanya mitra strategis, tetapi cermin. Di dalamnya tercermin harapan akan Islam yang ramah, nasionalisme yang inklusif, serta kepemimpinan yang merangkul, bukan membelah. Seratus tahun NU adalah pengingat bahwa bangsa ini hanya bisa bertahan jika perbedaan dikelola dengan kearifan, bukan dipertajam demi kepentingan sesaat.
Tajuk ini menegaskan satu hal: NU telah membuktikan perannya selama satu abad. Kini, bola ada di tangan negara. Persatuan yang diserukan di Stadion Gajayana harus dijaga konsistensinya dalam kebijakan, sikap, dan keberanian menolak politik perpecahan. Sebab sejarah akan mencatat, bukan siapa yang paling lantang berbicara tentang persatuan, melainkan siapa yang sungguh-sungguh merawatnya.
Penulis : nes











