Malang, pendoposatu.id – Upaya memperkokoh ketahanan pangan nasional mendapat dorongan langsung dari lapangan. Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Zulkifli Hasan, meninjau fasilitas produksi Sentral Telur Intan Jatim (STIJ) di Desa Kambingan, Kecamatan Tumpang, Selasa (24/02/2026), guna memastikan kesiapan sektor perunggasan rakyat menopang kebutuhan protein hewani masyarakat.
Kunjungan tersebut tidak sekadar seremonial, melainkan menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap ketersediaan bibit unggas, kapasitas produksi telur, hingga kesiapan distribusi berbasis desa. Pemerintah menegaskan bahwa penguatan struktur hulu—khususnya Grand Parent Stock (GPS)—menjadi kunci agar industri ayam dan telur nasional lebih mandiri dan tidak mudah terpengaruh gejolak pasokan.
Dalam dialog bersama pelaku usaha, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa peningkatan populasi GPS harus menjadi prioritas agar pengembangan parent stock dan Day Old Chick (DOC) dapat dilakukan secara berkelanjutan di dalam negeri.
“Kita ingin fondasi industri unggas ini kuat. Kalau GPS cukup, parent stock dan DOC bisa dikembangkan sendiri dan didistribusikan ke peternak rakyat,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah membuka opsi impor GPS secara terbatas sebagai langkah akselerasi, dengan catatan pengembangannya tetap difokuskan di dalam negeri.
“Impor hanya untuk memperkuat. Tujuannya supaya kita tidak bergantung pada segelintir pihak dan peternak kecil mendapat akses bibit yang adil,” tegasnya.
Selain sektor produksi, pemerintah menyoroti pola distribusi pangan melalui program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Menko Pangan menekankan bahwa rantai pasok harus melibatkan koperasi desa, BUMDes, dan pelaku UMKM lokal agar dampak ekonominya dirasakan langsung oleh masyarakat.
“SPPG harus terkoneksi dengan usaha desa. Jangan semua terpusat. Ekonomi lokal harus bergerak,” katanya.
Pemerintah menargetkan pembentukan sekitar 30 ribu koperasi desa yang dirancang menjadi simpul distribusi pangan nasional mulai pertengahan tahun ini, termasuk dalam mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jawa Timur, H. Kholik atau Abah Kholik, menyebut kunjungan tersebut sebagai energi baru bagi peternak rakyat di Malang Raya.
“Ini kebanggaan bagi kami di desa. Kehadiran Pak Menko menunjukkan perhatian pemerintah terhadap peternak rakyat,” ungkapnya.
Ia memaparkan bahwa unit usaha yang dikelolanya memelihara sekitar 500 ribu ayam petelur di empat titik wilayah Tumpang dan Pojok Kusumo, dengan produksi telur 2 hingga 3 ton per hari. Saat ini, pasokan tersebut melayani sekitar 20–22 SPPG di Malang Raya.
Namun, kapasitas tersebut baru mencakup sekitar 20–30 persen kebutuhan pasar Malang. Ia menilai program MBG berpotensi meningkatkan permintaan telur dan daging ayam secara signifikan, asalkan standar kualitas tetap dijaga.
“Produk harus fresh dan sesuai standar, apalagi untuk anak-anak. Kami sudah memiliki Rumah Potong Ayam berstandar nasional tingkat satu,” jelasnya.
Usaha yang dirintis sejak 1994 itu kini menyerap sekitar 500 tenaga kerja, dengan 80 persen di antaranya berasal dari warga sekitar Desa Kambingan. Abah Kholik menegaskan komitmennya untuk terus memberdayakan masyarakat lokal dan merangkul pedagang kecil agar tumbuh bersama.
“Kami tidak ingin monopoli. Justru ingin menggandeng pedagang kecil supaya sistem usaha yang sehat bisa berjalan,” tegasnya.
Kunjungan ini diharapkan menjadi titik awal penguatan ekosistem perunggasan rakyat berbasis desa, sekaligus menjadikan Malang sebagai salah satu pilar penting dalam menopang ketahanan pangan nasional.
Penulis : nes











