Malang, pendoposatu.id — KH Habib Musthofa Alaydrus akhirnya membuka secara gamblang proses panjang ikhtiar maslahah yang bergulir di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) dalam beberapa waktu terakhir. Ia menegaskan bahwa dinamika internal NU tidak bisa dipersempit hanya sebagai sekadar islah, melainkan harus dipahami sebagai upaya maslahah yang menyeluruh, demi menjaga persatuan jam’iyah NU dan umat Islam Indonesia. Penegasan tersebut disampaikan KH Habib Musthofa Alaydrus usai kegiatan pengajian di beberapa wilayah, Jumat (2/1/2026).
“Dalam proses ini sering muncul istilah islah dan maslahah. Islah pertama, kedua, hingga ketiga ternyata tidak sepenuhnya bisa diterima oleh semua pihak. Karena itu, saya memaknainya bukan sekadar islah, tetapi ikhtiar maslahah,” tegas KH Habib Musthofa.
Menurutnya, maslahah yang dimaksud tidak berpihak pada kelompok tertentu, melainkan sepenuhnya untuk kepentingan NU secara kelembagaan dan umat Islam secara luas.
“Maslahah untuk semuanya. Maslahah untuk NU dan maslahah untuk umat Islam Indonesia,” ujarnya dengan nada tegas.
Habib Musthofa menguraikan bahwa rangkaian ikhtiar tersebut bermula dari islah pertama di Pondok Ploso, dilanjutkan islah kedua di Pondok Tebuireng, hingga upaya islah ketiga melalui Musyawarah Kubro di Lirboyo. Namun, pada tahap terakhir inilah berbagai kendala muncul sehingga pertemuan yang diharapkan belum dapat terlaksana.
Ia mengungkapkan bahwa dalam rencana Musyawarah Kubro tersebut, KH Miftachul Akhyar sejatinya telah menyatakan kesiapan untuk hadir. Hal itu disampaikan langsung melalui komunikasi pribadi.

Pada Ahad pagi sekitar pukul 06.30 WIB, saat Habib Musthofa berada di hotel dalam persiapan menuju pengajian di wilayah Kediri, KH Miftachul Akhyar menelepon langsung. Malam sebelumnya, Habib Musthofa menghadiri ceramah di Denanyar, pondok peninggalan KH Bisri Syansuri, bersama KH Said Aqil Siradj, sementara Prof. Dr. KH Ma’ruf Amin berhalangan hadir.
“Setelah itu saya melanjutkan agenda ke Kediri untuk ceramah di haul Habib Muhamad bakbud bin Tohir Bakbud Pelem Kediri.. Maesan Kediri, lalu bermalam di hotel,” tuturnya.
Keesokan harinya, Habib Musthofa kembali menerima telepon dari KH Miftachul Akhyar, yang saat ini menjabat Rais ‘Aam PBNU, menyatakan niat dan kesiapan untuk hadir dalam pertemuan.
Informasi tersebut kemudian ia sampaikan kepada Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dengan harapan pertemuan dapat terwujud demi kemaslahatan bersama.
“Saya diminta menjadi penyambung komunikasi. Karena Kiai Miftah cukup akrab dengan saya, beliau seperti guru dan ayah bagi saya. Dan Gus Yahya juga masih memiliki hubungan keluarga dengan istri saya,” jelasnya.
Namun, Habib Musthofa menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memosisikan diri sebagai pendamai.
“Saya bukan pendamai. Pendamai itu adalah seluruh warga NU. Ulama Lirboyo, Ploso, Tebuireng, Tambakberas, Denanyar, Pondok Sarang, Kajen Pati, Leteh Rembang, Lasem, Bangkalan, Pasuruan, dan pondok-pondok lainnya. Ada Mbah Yai Anwar, Mbah Yai Kafabi. KH Said Aqil, Gus Ubab, Gus Hofur Sarang. Khususnya Gus Yai Muad Thohir yang paling menyemangati saya, Mbah Yai Huda Ploso, Gus Makmun Ploso, Gus Muhib, Gus Imron Mbesok Pasuruan, Gus Atok, Gus Muid Shohib, Gus Salam Shohib, Gus Latif Tambakberas, Gus Muhammad Mbuntet, dan banyak warga NU lainnya. Itulah penopangnya. Saya hanya membantu menyambungkan komunikasi agar pertemuan bisa terjadi demi maslahah,” kata Habib detail.
Gagalnya pertemuan tersebut kemudian memunculkan berbagai wacana, termasuk Muktamar Luar Biasa (MLB). Habib Musthofa menilai bahwa MLB bukan agenda ringan karena memiliki konsekuensi besar bagi organisasi.
Ia menegaskan bahwa baik Gus Yahya maupun Kiai Miftah adalah orang-orang pilihan dan sangat baik, serta pasti selalu memperhatikan warga NU. Pada dasarnya, keduanya tidak menghendaki MLB.
Namun karena pertemuan belum terwujud dan dinamika terus berkembang ke berbagai arah, situasi dibiarkan mengalir dengan tenggat waktu tertentu sebelum akhirnya ia kembali ke rumah.
Sepulangnya, sejumlah kiai kembali mendatanginya dan berharap ikhtiar pertemuan tetap dilanjutkan. Meski tidak mudah, Habib Musthofa menegaskan bahwa jalan maslahah harus tetap dicari.
Habib Musthofa kemudian bertolak ke Surabaya dan bertemu tim Kiai Miftah. Diskusi intens dilakukan, mulai dari mekanisme undangan hingga kepastian kehadiran Gus Yahya.
“Saya sampaikan, jika ada undangan datang dari kami, saya siap menjadi jaminannya demi maslahah bersama,” ungkapnya.
Sejumlah lokasi sempat dipertimbangkan, mulai dari Bangkalan, Pasuruan, Kaliwungu, Ploso, Tebuireng, hingga Lirboyo. Setelah musyawarah panjang, disepakati Lirboyo sebagai lokasi pertemuan, sebelum komunikasi kemudian dialihkan ke Pondok Suci Mamba’us Sholihin, milik KH Masbuhin.
Proses musyawarah berlangsung intens sejak Senin hingga Rabu, bahkan sampai dini hari.
Salah satu kesepakatan penting adalah redaksi undangan harus menggunakan bahasa yang santun dan tidak menyinggung pihak mana pun.
Dalam perkembangan selanjutnya, muncul permintaan agar lokasi pertemuan kembali dipindahkan ke Lirboyo dan waktu diubah menjadi pukul 10.00 WIB. Menurut KH Habib Musthofa, perubahan tersebut murni penyesuaian jadwal, bukan bentuk penolakan.
“Di Pondok Ploso pukul 14.00 WIB sudah ada agenda Bani Baidhowi. Jadi ini penyesuaian, bukan penolakan,” tegasnya.
Kesepakatan akhirnya dicapai: pertemuan dijadwalkan Kamis pukul 10.00 WIB, dan seluruh pihak menyatakan persetujuan.
Menutup keterangannya, KH Habib Musthofa kembali menegaskan bahwa seluruh ikhtiar yang ia lakukan semata-mata demi menjaga kemaslahatan NU dan persatuan umat Islam.
“Saya hanya berusaha menyambungkan komunikasi. Selebihnya, maslahah ini adalah kehendak Allah yang ditopang doa warga NU,” tandasnya.
Usai pertemuan damai di Lirboyo, keesokan harinya Jumat pagi, Ketua Umum PBNU Gus Yahya bersama Gus Said Amin Husni, didampingi Gus Muhib, Gus Imron, dan Gus Adim Lamongan, bersilaturahmi ke kediaman Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.
Dua hari kemudian, pada Ahad, digelar silaturahmi kedua berupa acara syukuran, sholawatan, dan makan bersama seluruh pengurus PBNU di kediaman KH Miftachul Akhyar. Dalam kegiatan tersebut, KH Habib Musthofa Alaydrus ditunjuk langsung untuk memandu seluruh rangkaian acara.
Penulis : nes











