Malang, pendoposatu.id – Kegiatan keagamaan Lawang Bersholawat kembali digelar dengan penuh kekhusyukan tepat menjelang pergantian tahun. Tradisi tahunan ini menjadi momentum spiritual untuk bermuhasabah, berdoa bersama, serta memohon keberkahan agar tahun mendatang menjadi lebih baik. Memasuki pelaksanaan ke-8, Lawang Bersholawat terus menunjukkan komitmennya untuk tetap istiqomah sejak pertama kali dilaksanakan pada tahun 2017.
Direktur Daya Sundara PT Exel Mandiri, H. Daya, menyampaikan bahwa pelaksanaan Lawang Bersholawat secara konsisten digelar setiap akhir tahun sebagai bentuk ikhtiar batin menyambut tahun baru dengan doa dan harapan.
“Kegiatan Lawang Bersholawat ini selalu kami laksanakan menjelang pergantian tahun. Sudah yang ke-8 sejak dimulai tahun 2017. Bahkan di tengah pandemi Covid-19, Lawang Bersholawat tetap istiqomah,” ujar H. Daya, Rabu Malam (31/12/2025).
Menurutnya, tujuan utama kegiatan ini adalah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama berdoa agar kehidupan ke depan semakin baik, penuh keberkahan, serta dijauhkan dari berbagai musibah.

“Tujuan Lawang Bersholawat adalah mengajak kita semua berdoa agar tahun depan lebih baik dari saat ini. Selain itu, kami juga berharap doa-doa ini dipanjatkan untuk saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah,” lanjutnya.
Tak hanya berhenti pada doa, Lawang Bersholawat juga diwujudkan dalam bentuk kepedulian sosial. H. Daya mengungkapkan bahwa pihaknya menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada korban bencana, khususnya di wilayah terdampak erupsi Gunung Semeru.
“Kami mengirimkan dua truk bantuan ke kawasan Gunung Semeru berupa ratusan paket sembako serta makanan untuk anak-anak. Ini bentuk kepedulian kami agar Lawang Bersholawat tidak hanya istiqomah dalam ibadah, tetapi juga dalam kepedulian kepada sesama,” tegasnya.
Pengajian semakin bermakna dengan tausiyah yang disampaikan oleh Habib Musthofa Alaydrus. Dalam ceramahnya, ia menekankan bahwa hakikat umat Islam adalah menebarkan kemaslahatan dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dengan adab dan tata krama.
“Tebarkan kemaslahatan, itulah ciri umat Islam. Tegakkan sesuatu pada tempatnya, dan sampaikan dengan tata krama. Semua itu melalui proses,” tuturnya.
Habib Musthofa juga mengajak jamaah untuk bersama-sama mendoakan keselamatan serta memperbarui iman agar senantiasa terjaga dalam keistiqomahan.
“Mari kita berdoa untuk keselamatan bersama. Yang paling penting, iman harus selalu anyar dan terus dijaga dengan istiqomah. Kegiatan seperti ini dilaksanakan agar kita semua tetap istiqomah,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pembaruan diri harus tercermin dalam cara berpikir, cara pandang, hingga perilaku sehari-hari yang mengarah pada kebaikan.
“Semua harus diperbarui, cara berpikir, cara pandang, dan tingkah laku, agar selalu menuju kebaikan,” imbuhnya.
Habib Musthofa juga menegaskan keutamaan sholawat sebagai sarana mendapatkan pertolongan Allah SWT dan penghapus dosa.
“Sholawat mampu melenturkan dosa-dosa kita karena di dalamnya ada pertolongan dari Allah,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, ia turut mendoakan keluarga besar H. Daya agar senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, serta mengingatkan para ulama, umara, dan pejabat agar selalu rendah hati.
“Semoga keluarga besar H. Daya selalu dalam lindungan Allah. Kepada para ulama dan umara, jangan pernah sombong, selalu bersyukur atas apa yang diberikan Sang Maha Pencipta, dan perbanyak dzikir,” pesannya.
Sebelum tausiyah Habib Musthofa, KH. Rojih Ubab Maimoen, cucu almaghfurlah KH. Maimoen Zubair, menyampaikan mauidhoh hasanah yang mengulas sejarah dakwah Islam di Nusantara. Ia menuturkan kisah Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa dengan pendekatan budaya dan adat istiadat setempat.
“Wali Songo berdakwah dengan cara yang bijaksana, membawa nilai-nilai Islam tanpa menghilangkan adat dan budaya masyarakat,” jelas KH. Rojih.
Ia juga mengajak jamaah untuk senantiasa memperbanyak sholawat sebagai jalan mendapatkan ampunan dosa dan ketenangan hidup.
“Mari kita selalu bersholawat agar dosa-dosa kita diampuni. Dengan terus mengingat Nabi Muhammad SAW, hidup akan terasa terang dan tenang. Ikutilah tuntunan sunnah Nabi agar hidup selamat di dunia dan akhirat,” pungkasnya.
Lawang Bersholawat ke-8 kembali menegaskan posisinya sebagai tradisi spiritual akhir tahun yang sarat makna. Melalui doa, sholawat, tausiyah, dan aksi sosial, kegiatan ini diharapkan terus menjadi sumber keberkahan serta inspirasi bagi masyarakat untuk tetap istiqomah dan peduli terhadap sesama.
Penulis : nes











