MALANG, pendoposatu.id– Jalur Lintas Selatan (JLS) Kabupaten Malang diproyeksikan menjadi salah satu penghubung penting bagi pergerakan ekonomi di kawasan selatan Jawa Timur. Namun, manfaat konektivitas tersebut baru akan semakin terasa ketika jaringan jalan dari Malang hingga Blitar dan wilayah selatan lainnya tersambung.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga (DPUBM) Kabupaten Malang, Khairul Isnaidi Kusuma, menyebut keterhubungan JLS dengan jaringan jalan di daerah lain menjadi bagian penting yang kini ditunggu. Khususnya penyelesaian ruas di wilayah Blitar.
“Harapannya ya 2026 ini bisa terkoneksi semua. Gondanglegi selesai, JLS sudah siap semua,” kata Khairul yang akrab disapa Oong, Jumaat (9 Oktober 2026).
Menurut dia, apabila jaringan tersebut tersambung, akses dari kawasan Malang menuju Blitar, Tulungagung hingga Trenggalek akan semakin terhubung. Kondisi itu juga akan semakin strategis apabila nantinya terkoneksi dengan jaringan jalan tol.
“Nah, begitu jalan tol masuk, wah, sudah konek ini dari Surabaya, Malang, Kepanjen, JLS, sampai ke Blitar dan seterusnya terkoneksi, ekonomi bergerak,” ujarnya.
Dari sisi Kabupaten Malang, Oong memastikan pembangunan JLS telah memasuki tahap akhir. Ruas yang berada di wilayah Kabupaten Malang memiliki panjang sekitar 58 kilometer.
“Kalau JLS di kita kan sudah tuntas. Di kita sudah 58 kilometer, tinggal menunggu selesainya pekerjaan fisik JLS Blitar,” jelasnya.
Meski demikian, masih terdapat pekerjaan yang harus dikebut sebelum seluruh target pembangunan dapat dituntaskan. Salah satunya berkaitan dengan pembebasan sejumlah bidang lahan.
Oong mengatakan proses penyelesaian lahan tersebut sedang dipercepat. Setelah persoalan lahan selesai, pekerjaan fisik yang tersisa dapat langsung dilanjutkan.
“Sudah 80 persen, masih ada beberapa lahan yang memang perlu penanganan untuk pembebasan, masih menunggu itu. Begitu itu selesai nanti segera dieksekusi, progres fisiknya naik,” katanya saat dikonfirmasi pendoposatu.id.
Progres fisik JLS di wilayah Kabupaten Malang sendiri saat ini telah mencapai sekitar 80 persen. Pemkab Malang menargetkan pekerjaan yang menjadi kewenangannya dapat selesai pada Desember 2026.
“Harusnya Desember. Desember memang waktunya sudah ini, tapi sekarang lagi dilakukan percepatan pembebasan lahan yang belum-belum itu,” imbuh Oong.
Sementara itu, pembangunan JLS di wilayah Blitar juga menjadi bagian yang menentukan terbentuknya konektivitas lintas wilayah. Oong menyebut masih terdapat sekitar lima kilometer pekerjaan di Blitar yang perlu diselesaikan.
Pekerjaan tersebut sebelumnya sempat mengalami perlambatan karena adanya perubahan trase. Namun, menurut Oong, pembangunan kini kembali berjalan.
“Blitar kan sisa lima kilometer, tapi kayaknya on progress sudah itu. Blitar itu berubah trasenya, sehingga itu terjadi perlambatan kemarin di situ,” ungkapnya.
Jika seluruh ruas dapat tersambung, JLS tidak hanya berfungsi sebagai jalur alternatif antar kawasan, tetapi juga membuka akses yang lebih luas bagi mobilitas masyarakat serta distribusi barang dan jasa di wilayah selatan Jawa Timur.
Karena itu, percepatan penyelesaian JLS Kabupaten Malang hingga koneksi menuju Blitar menjadi bagian penting dari upaya membangun jaringan transportasi yang lebih terintegrasi di kawasan selatan.
Target Desember 2026 kini menjadi batas waktu yang dikejar Pemkab Malang. Penyelesaian persoalan lahan menjadi salah satu tahapan yang harus segera dituntaskan agar pembangunan fisik dapat terus bergerak dan konektivitas JLS semakin mendekati kondisi yang diharapkan.(Dir)












