MALANG, pendoposatu.id – Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang menggelar Orkestrasi Strategic Planning Road to Malang Raya Megapolitan 2026–2045 sebagai forum strategis untuk membangun kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan kawasan Malang Raya Megapolitan sekaligus mengakselerasi pembangunan Koridor Selatan Jatim 2045. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Arjuno Bakorwil Malang, Rabu (15 Uli 2026), merupakan hasil sinergi Bakorwil Malang bersama PHRI Malang Raya dan JMSI Malang Raya.
Forum ini mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, organisasi masyarakat, dan komunitas guna menyatukan visi pembangunan kawasan yang selaras dengan Asta Cita Presiden RI, Nawa Bhakti Satya Gubernur Jatim, serta arah pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.
Kepala Bakorwil Malang, Asep Kusdinar, menegaskan bahwa pengembangan Malang Raya Megapolitan bukan sekadar perluasan kawasan perkotaan, melainkan strategi besar membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang terintegrasi dengan kawasan selatan Jatim.
“Malang Raya Megapolitan dan Koridor Selatan 2045 merupakan ikhtiar bersama untuk menghadirkan pembangunan yang lebih merata, kita ingin menggerakkan potensi wilayah selatan Jatim menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045,” ujar Asep.
Menurut Asep, tantangan pembangunan saat ini tidak lagi dapat diselesaikan oleh satu institusi maupun satu daerah. Karena itu, diperlukan orkestrasi kolaborasi lintas sektor yang mampu menyinergikan pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, komunitas, dan masyarakat dalam satu arah pembangunan.
“Bakorwil III Malang bersama Bakorwil I Madiun dan Bakorwil V Jember berkomitmen menjadi penggerak pembangunan wilayah selatan Jatim melalui sinergi potensi daerah dan penguatan kawasan Malang Raya Megapolitan yang selaras dengan Asta Cita Presiden serta Nawa Bhakti Satya Gubernur Jatim,” tegasnya.
Sebagai perpanjangan tangan Pemprov Jatim di wilayah kerja, Bakorwil Malang berperan sebagai kolaborator pembangunan yang mengoordinasikan sembilan daerah, yaitu Kota Surabaya, Kota Malang, Kota Batu, Kota Pasuruan, Kota Blitar, serta Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Blitar. Peran tersebut menjadi penting dalam menghubungkan kebijakan lintas daerah, menyelaraskan program pembangunan, serta memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan.
Asep mengungkapkan bahwa salah satu tantangan utama pembangunan Jatim adalah masih adanya kesenjangan pembangunan antara kawasan utara dan selatan. Aktivitas ekonomi masih terkonsentrasi di wilayah Pantura, sementara kawasan selatan yang memiliki potensi besar belum berkembang secara optimal.
“Kawasan selatan Jatim memiliki sumber daya yang luar biasa, tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dihubungkan dalam satu ekosistem pembangunan sehingga mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat,” jelasnya.
Ia menjelaskan, Koridor Selatan memiliki beragam potensi unggulan yang saling melengkapi. Kabupaten Malang memiliki kekuatan pada sektor tebu, kopi, hortikultura, dan pariwisata. Kabupaten Blitar merupakan salah satu sentra peternakan nasional. Pacitan memiliki potensi kelautan dan perikanan yang besar. Lumajang dan Jember memiliki peluang besar dalam pengembangan green economy, sedangkan Banyuwangi telah berkembang sebagai destinasi wisata unggulan yang terintegrasi dengan Pulau Bali melalui konektivitas antarpulau.
Selain itu, kawasan selatan juga memiliki kekuatan pada sektor kehutanan, perkebunan kopi, kakao dan tebu, pertanian hortikultura, perikanan tangkap, tempat pelelangan ikan (TPI), ekonomi kreatif, hingga pengembangan sport ecotourism yang mampu menciptakan efek berganda bagi pertumbuhan UMKM, homestay, kuliner lokal, transportasi, dan jasa pendukung lainnya.
“Solusi yang lebih realistis adalah menghubungkan titik-titik keluar jalan tol dengan jalan nasional, kemudian memperkuat konektivitas menuju Jalur Lintas Selatan yang membentang dari Pacitan hingga Banyuwangi. Dengan cara ini distribusi barang, jasa, investasi, dan mobilitas masyarakat dapat berlangsung lebih efisien tanpa membebani anggaran pembangunan secara berlebihan,” ujarnya.
Forum ini menghadirkan narasumber dari berbagai bidang, antara lain Novrizald Patterson (Business Strategic & Partnership Development), Agoes Basoeki (Ketua PHRI Kota Malang), Saiful Arief (Ketua JMSI Malang Raya), Dr. Abdillah Ubaidi (Kepala LPPM UNIRA Malang), Budi Susilo (SMC PRO Indonesia), serta Wahyu Eko Setiawan (Ekosistem Kebudayaan Indonesia).
Kegiatan ini juga dihadiri Ketua Umum Formasy Praja Nusantara Dodik Purwoko, SP, beserta jajaran organisasi, serta perwakilan Perum Perhutani Divisi Regional Jatim sebagai bentuk komitmen bersama dalam memperkuat pembangunan kawasan selatan Jatim melalui pendekatan Green Economy dan Blue Economy.
Sebagai tindak lanjut forum, seluruh peserta menyepakati pembentukan Konsorsium Akselerasi Kawasan Selatan–Selatan Jawa Timur (Konsorsium AKSES Jatim) sebagai wadah kolaborasi lintas sektor dalam mengawal implementasi pembangunan kawasan. Konsorsium ini akan bekerja melalui lima kelompok kerja, yaitu Knowledge dan Inovasi, Infrastruktur Fisik dan Tata Kelola Kawasan, Digitalisasi dan Teknologi, Institusional dan Sosial, serta Investasi dan Business Development. Masing-masing Pokja akan segera menyusun peta jalan, program prioritas, dan rencana aksi sebagai langkah awal implementasi.(Dir)
Penulis : Dir
Editor : Redaksi
Sumber Berita : Hms Bakorwil Malang










