MALANG, pendoposatu.id – Bakorwil III Malang Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) menegaskan transformasi perannya dari sekadar lembaga koordinasi pemerintahan menjadi katalisator pembangunan dan penggerak kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat pembangunan kewilayahan, khususnya di kawasan selatan Jawa Timur.
Komitmen tersebut disampaikan Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar, dalam Podcast Ruang Informasi yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Rabu (17 Juni 2026), dengan tema “DNA Baru Bakorwil Malang: Kolaborasi, Gotong Royong, dan Solusi Pembangunan Inklusif.”
Menurut Asep, kompleksitas tantangan pembangunan saat ini menuntut pendekatan yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada penyelesaian masalah masyarakat. Oleh karena itu, Bakorwil Malang melakukan penyegaran paradigma melalui DNA baru yang berlandaskan pada kolaborasi, gotong royong, dan solusi. “Bakorwil tidak lagi cukup hanya menjalankan fungsi koordinasi administratif, kami ingin hadir sebagai katalisator pembangunan yang mampu menyatukan berbagai kekuatan dan sumber daya untuk mempercepat penyelesaian persoalan pembangunan di wilayah,” ujar Asep.
Ia menjelaskan bahwa secara sederhana Bakorwil dapat diibaratkan sebagai miniatur Pemprov Jatim di wilayah. Namun lebih dari itu, Bakorwil merupakan ruang bersama yang mempertemukan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, instansi vertikal, dunia usaha, perguruan tinggi, media, komunitas, hingga masyarakat dalam satu semangat pembangunan yang terintegrasi.
Dalam menjalankan tugasnya, Bakorwil Malang berperan sebagai jembatan strategis antara Pemprov Jatim dengan pemerintah kabupaten dan kota. Peran tersebut tidak hanya memastikan program prioritas Pemprov berjalan selaras di daerah, tetapi juga membawa aspirasi dan kebutuhan masyarakat di tingkat lokal sebagai masukan dalam proses perumusan kebijakan.
“Pembangunan yang efektif adalah pembangunan yang mampu menghubungkan visi besar pemerintah dengan kebutuhan nyata masyarakat di lapangan. Karena itu, komunikasi dua arah antara pemerintah provinsi dan daerah harus terus diperkuat,” katanya.
Wilayah kerja Bakorwil Malang yang mencakup berbagai karakteristik daerah, mulai dari kawasan perkotaan, pertanian, pegunungan, pesisir hingga kawasan selatan, menjadi tantangan sekaligus peluang tersendiri. Menurut Asep, keberagaman tersebut justru merupakan kekuatan yang harus dirajut menjadi kolaborasi pembangunan yang saling menguatkan.
Pendekatan yang dilakukan Bakorwil tidak lagi sebatas mengoordinasikan program, tetapi juga aktif membangun ruang dialog, memperkuat sinergi antarwilayah, serta mengikis ego sektoral yang selama ini kerap menjadi hambatan percepatan pembangunan. “Ketika semua pihak memiliki tujuan yang sama, yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka sekat-sekat sektoral akan semakin berkurang. Yang muncul adalah semangat gotong royong untuk menghadirkan solusi,” tegasnya.
Asep menambahkan bahwa orientasi pembangunan yang diusung Bakorwil Malang adalah pembangunan yang inklusif. Artinya, manfaat pembangunan harus dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali, termasuk kelompok rentan, pelaku UMKM, petani, nelayan, perempuan, generasi muda, hingga masyarakat yang tinggal di wilayah perdesaan dan kawasan selatan Jatim.
Dalam kesempatan tersebut, Asep juga menegaskan bahwa kawasan selatan Jatim akan menjadi fokus agenda pembangunan ke depan. Menurutnya, wilayah selatan memiliki potensi besar di sektor pertanian, perikanan, perkebunan, peternakan, pariwisata, ekonomi kreatif, serta berbagai sumber daya lokal yang belum sepenuhnya memberikan nilai tambah optimal bagi masyarakat.
Karena itu, Bakorwil Malang mengorkestrasi pembangunan kawasan selatan melalui penguatan konektivitas wilayah, percepatan hilirisasi komoditas unggulan, pengembangan pariwisata berkelanjutan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penciptaan iklim investasi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Kami memandang kawasan selatan bukan lagi sebagai wilayah pinggiran pembangunan, tetapi sebagai beranda masa depan pertumbuhan ekonomi Jatim. Potensi yang dimiliki sangat besar dan harus dikelola secara terintegrasi agar mampu menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat,” ungkapnya.
Keberadaan Jalur Lintas Selatan (JLS) dan berbagai infrastruktur strategis lainnya, lanjut Asep, menjadi momentum penting untuk membuka akses ekonomi baru, memperkuat konektivitas antarwilayah, memperlancar distribusi barang dan jasa, serta menarik investasi yang berkualitas.
Melalui DNA baru yang diusungnya, Bakorwil Malang berkomitmen menjadi simpul kolaborasi pembangunan yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, media, dan masyarakat untuk bergerak dalam satu visi bersama.
“Semangat yang kami bangun adalah membangun Selatan Jatim dengan memberdayakan potensi, mempercepat konektivitas, dan mengakselerasi kesejahteraan. Inilah wujud nyata transformasi Bakorwil Malang sebagai katalisator pembangunan dan penggerak ekonomi kawasan selatan,” tutup Asep.(Dir)
Penulis : Dir
Editor : Redaksi
Sumber Berita : Hms Bakorwil Malang










