KH Masykur Hafidz Lanjutkan Estafet Pendidikan, STAI Jadi Puncak Perjuangan Pesantren Salafiyah Nurul Huda Poncokusumo

- Redaksi

Minggu, 21 Desember 2025 - 10:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ket foto.  KH.  Masykur Hafidz (baju putih peci putih)  bersama para pengajar saat peresmian  STAI Nurul Huda Masykuriyah Poncokusumo Malang.

Ket foto. KH. Masykur Hafidz (baju putih peci putih) bersama para pengajar saat peresmian STAI Nurul Huda Masykuriyah Poncokusumo Malang.

 

Malang, pendoposatu.id – Perjalanan panjang Pondok Pesantren Salafiyah Nurul Huda Poncokusumo akhirnya mencapai babak penting dengan diresmikannya pendidikan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nurul Huda Masykuriyah.

Di balik berdirinya perguruan tinggi tersebut, tersimpan kisah perjuangan dan estafet pengabdian yang diteruskan oleh pendiri sekaligus pengasuh pondok, KH Masykur Hafidz, dari ayahandanya, KH. Masykur Bin Hafidz Bin H,Asyiq,  yang wafat pada tahun 2014.

Usai peresmian STAI NuHa Masykuriyah, KH Masykur Hafidz kepada awak media mengungkapkan bahwa embrio pendidikan di kawasan tersebut telah dirintis jauh sebelum pesantren berkembang seperti saat ini.

“Dulu di sini sudah ada sekolah agama Islam MI yang diasuh oleh orang tua kami. Setelah beliau wafat, saya meneruskan perjuangan beliau di Pondok Pesantren Salafiyah Nurul Huda Poncokusumo,” ujar KH Masykur Hafidz di pondok pesantren Salafiyah Nurul Huda pajaran Poncokusumo, Sabtu (20/12/2025).

Ia juga menceritakan latar belakang pendidikannya yang pernah menimba ilmu di Pasuruan.

“Saya dulu mondok di Mbah Hamid Pasuruan sampai beliau wafat. Setelah itu saya ditugaskan ke Malang, ya di sini. Waktu itu pondok ini masih belum sebesar sekarang,” tuturnya.

Sebelas tahun pasca wafatnya sang ayah, KH Masykur Hafidz mulai menata arah pengembangan pendidikan. Saat itu, lembaga yang sudah ada baru sebatas Madrasah Ibtidaiyah (MI). Niat untuk mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) sempat muncul, namun mendapat pertimbangan dari keluarga.

“Waktu itu ada saran dari keluarga, kalau di daerah ini minat MTs masih kurang. Akhirnya kami mendirikan SMP. Alhamdulillah, muridnya banyak dan gedungnya bisa dibangun,” ungkapnya.

Untuk melengkapi kebutuhan pendidikan dan pembinaan akhlak santri, KH Masykur kemudian mendirikan Madrasah Diniyah.

Baca Juga :  Sekawan Andreas Gercep Bagikan Ribuan Sembako Ke Masyarakat Jelang Lebaran

“Pagi untuk pendidikan umum, sore untuk ngaji dan memperdalam ilmu agama Islam,” jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, seluruh unit pendidikan di bawah asuhannya terus berkembang. Untuk memperkuat tata kelola dan legalitas, dibentuklah sebuah yayasan. Dari sinilah kemudian lahir keputusan besar untuk mendirikan pondok pesantren secara resmi.

KH Masykur juga mengungkapkan sisi spiritual perjalanan pesantren yang tidak mudah.

“Dulu di sini banyak gangguan, hampir setiap hari ada anak asuh yang kesurupan. Akhirnya saya buka pondokan, ada yang mondok, saya ajak ngaji setiap hari. Alhamdulillah, pelan-pelan gangguan itu hilang,” kisahnya.

Perkembangan pendidikan yang pesat mendorong pendirian jenjang pendidikan lanjutan. SMA/SMK pun didirikan, dilanjutkan dengan pembentukan Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah.

“Saya ingin pendidikan di sini lengkap, Sanawiyah dan Aliyah harus ada. Alhamdulillah, dalam satu tahun bisa terbentuk semuanya,” katanya.

Lengkapnya jenjang pendidikan dari PAUD/TK, MI/SD, SMP/MTs, SMA/MA, hingga pesantren menjadi fondasi kuat lahirnya Institut Agama Islam.

“Karena keinginan saya menuntaskan cita-cita anak-anak didik sampai tuntas, tidak berhenti di SMA, maka saya memberanikan diri mendirikan tempat kuliah bergelar S1. Awalnya sangat sulit, persyaratannya ketat dan tantangannya banyak,” ungkap KH Masykur.

Namun kegigihan tersebut berbuah manis setelah dilakukan survei oleh Direktorat Pendidikan Kementerian Agama.

“Alhamdulillah, setelah disurvei oleh Direktorat Pendidikan Kemenag, akhirnya izin STAI keluar,” pungkasnya.

Berdirinya STAI ini menjadi tonggak sejarah baru Pondok Pesantren Salafiyah Nurul Huda Poncokusumo, sekaligus bukti nyata komitmen KH Masykur Hafidz dalam melanjutkan perjuangan ayahandanya mencetak generasi berilmu, berakhlak, dan berdaya saing

Penulis : nes

Berita Terkait

Perkuat Gizi Anak dan Tekan Stunting, Pemkab Malang Resmikan Dapur MBG di Kalipare
Sepak Bola Persahabatan Antar Instansi Pererat Kebersamaan di Kabupaten Malang
Terseret Arus Sungai, Warga Kasembon Malang Tewas Terjepit Pintu Air DAM Kali Manten
Derita Preeklampsia Parah, Warga Kepanjen Kabupaten Malang Terancam Kehilangan Penglihatan, Butuh Uluran Tangan
Cuaca Ekstrem Hambat Penerbangan, Pesawat Batik Air Ditumpangi KH Habib Mustofa Gagal Mendarat di Juanda Surabaya
SMK NU Sunan Ampel Poncokusumo Resmi Terapkan ISO 21001:2018, Perkuat Tata Kelola Pendidikan Vokasi Berstandar Internasional
Sekda Malang: LP Ma’arif NU Harus Berdaya dan Berdampak Nyata
KH Habib Musthofa Alaydrus Tuban Tegaskan Ikhtiar Maslahah, Bukan Sekadar Islah: Demi Persatuan Nahdlatul Ulama dan Umat Islam

Berita Terkait

Kamis, 22 Januari 2026 - 22:02 WIB

Kapolresta Malang Kota Silaturahmi dengan Keluarga Korban Kanjuruhan, Tegaskan Komitmen Pendekatan Humanis

Berita Terbaru

Ket foto. Ilustrasi kursi kosong KONI Kabupaten Malang yang menjadi rebutan para pemilik kepentingan

Tajuk

Kursi KONI Kabupaten Malang dalam Pusaran Kepentingan

Kamis, 5 Feb 2026 - 07:33 WIB