Malang, pendoposatu.id – Perjalanan panjang Pondok Pesantren Salafiyah Nurul Huda Poncokusumo akhirnya mencapai babak penting dengan diresmikannya pendidikan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nurul Huda Masykuriyah.
Di balik berdirinya perguruan tinggi tersebut, tersimpan kisah perjuangan dan estafet pengabdian yang diteruskan oleh pendiri sekaligus pengasuh pondok, KH Masykur Hafidz, dari ayahandanya, KH. Masykur Bin Hafidz Bin H,Asyiq, yang wafat pada tahun 2014.
Usai peresmian STAI NuHa Masykuriyah, KH Masykur Hafidz kepada awak media mengungkapkan bahwa embrio pendidikan di kawasan tersebut telah dirintis jauh sebelum pesantren berkembang seperti saat ini.
“Dulu di sini sudah ada sekolah agama Islam MI yang diasuh oleh orang tua kami. Setelah beliau wafat, saya meneruskan perjuangan beliau di Pondok Pesantren Salafiyah Nurul Huda Poncokusumo,” ujar KH Masykur Hafidz di pondok pesantren Salafiyah Nurul Huda pajaran Poncokusumo, Sabtu (20/12/2025).
Ia juga menceritakan latar belakang pendidikannya yang pernah menimba ilmu di Pasuruan.
“Saya dulu mondok di Mbah Hamid Pasuruan sampai beliau wafat. Setelah itu saya ditugaskan ke Malang, ya di sini. Waktu itu pondok ini masih belum sebesar sekarang,” tuturnya.
Sebelas tahun pasca wafatnya sang ayah, KH Masykur Hafidz mulai menata arah pengembangan pendidikan. Saat itu, lembaga yang sudah ada baru sebatas Madrasah Ibtidaiyah (MI). Niat untuk mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) sempat muncul, namun mendapat pertimbangan dari keluarga.
“Waktu itu ada saran dari keluarga, kalau di daerah ini minat MTs masih kurang. Akhirnya kami mendirikan SMP. Alhamdulillah, muridnya banyak dan gedungnya bisa dibangun,” ungkapnya.
Untuk melengkapi kebutuhan pendidikan dan pembinaan akhlak santri, KH Masykur kemudian mendirikan Madrasah Diniyah.
“Pagi untuk pendidikan umum, sore untuk ngaji dan memperdalam ilmu agama Islam,” jelasnya.
Seiring berjalannya waktu, seluruh unit pendidikan di bawah asuhannya terus berkembang. Untuk memperkuat tata kelola dan legalitas, dibentuklah sebuah yayasan. Dari sinilah kemudian lahir keputusan besar untuk mendirikan pondok pesantren secara resmi.
KH Masykur juga mengungkapkan sisi spiritual perjalanan pesantren yang tidak mudah.
“Dulu di sini banyak gangguan, hampir setiap hari ada anak asuh yang kesurupan. Akhirnya saya buka pondokan, ada yang mondok, saya ajak ngaji setiap hari. Alhamdulillah, pelan-pelan gangguan itu hilang,” kisahnya.
Perkembangan pendidikan yang pesat mendorong pendirian jenjang pendidikan lanjutan. SMA/SMK pun didirikan, dilanjutkan dengan pembentukan Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah.
“Saya ingin pendidikan di sini lengkap, Sanawiyah dan Aliyah harus ada. Alhamdulillah, dalam satu tahun bisa terbentuk semuanya,” katanya.
Lengkapnya jenjang pendidikan dari PAUD/TK, MI/SD, SMP/MTs, SMA/MA, hingga pesantren menjadi fondasi kuat lahirnya Institut Agama Islam.
“Karena keinginan saya menuntaskan cita-cita anak-anak didik sampai tuntas, tidak berhenti di SMA, maka saya memberanikan diri mendirikan tempat kuliah bergelar S1. Awalnya sangat sulit, persyaratannya ketat dan tantangannya banyak,” ungkap KH Masykur.
Namun kegigihan tersebut berbuah manis setelah dilakukan survei oleh Direktorat Pendidikan Kementerian Agama.
“Alhamdulillah, setelah disurvei oleh Direktorat Pendidikan Kemenag, akhirnya izin STAI keluar,” pungkasnya.
Berdirinya STAI ini menjadi tonggak sejarah baru Pondok Pesantren Salafiyah Nurul Huda Poncokusumo, sekaligus bukti nyata komitmen KH Masykur Hafidz dalam melanjutkan perjuangan ayahandanya mencetak generasi berilmu, berakhlak, dan berdaya saing
Penulis : nes











