Ketika ‘Malang Menyala’ Justru Padamkan Memori Kolektif ‘Malang The Glory Land’

- Redaksi

Kamis, 20 Agustus 2026 - 14:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mural ikonik Malang The Glory Land di Jalan Arif Rahman Hakim sebelum di hapus Panitia Festival Mbois 11 (Foto: Agus S pendoposatu.id)

Mural ikonik Malang The Glory Land di Jalan Arif Rahman Hakim sebelum di hapus Panitia Festival Mbois 11 (Foto: Agus S pendoposatu.id)

Spread the love

KOTA MALANG, pendoposatu.id- Dinding di Jalan Arif Rahman Hakim Kota Malang, mendadak menjadi pusat perbincangan hangat publik. Langkah panitia Festival Mbois (FM) 11 yang menimpa mural ikonik “Malang The Glory Land” dengan tulisan “Malang Menyala Bersama” memicu gelombang protes keras dari warganet.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa seni di ruang publik bukan sekadar permukaan kosong yang bebas dicat ulang, tapi sudah menjadi bagian memori kolektif warga Malang

Seperti yang diketahui, Unggahan akun Instagram @malangraya_info menyebut mural tersebut dibuat komunitas supporter pada 2016 sebagai bentuk kecintaan sekaligus identitas bagi warga Malang dan klub sepak bola Arema.

Mural dinding “Malang The Glory Land” yang bermakna “Malang Tanah Kejayaan” bukan lagi sekadar karya seni ornamen visual. Guratan warna biru dan tulisan besar di kawasan strategis dekat Alun-Alun Kota Malang tersebut telah menjelma menjadi identitas, rekam jejak kecintaan warga, serta memori kolektif yang mengakar kuat.

Ketika karya yang menyimpan nilai historis dan emosional ini di hapus demi kepentingan aktivasi acara baru, timbul rasa kehilangan, kekecewaan dan kemarahan publik.

Fenomena ini mempertegas bahwa seni jalanan memiliki ikatan batin dengan komunitasnya. Perubahan visual yang dilakukan tanpa sensitivitas sejarah akan selalu rentan memicu gelombang penolakan.

Polemik ini membuka diskusi mendalam mengenai tata kelola dan etika dalam memanfaatkan fasilitas umum serta pentingnya etika dan budaya kulo nuwun di ruang publik.

Sebagai milik bersama, ruang publik menuntut adanya komunikasi yang transparan dan inklusif. Prinsip “kulon nuwun” yakni meminta izin serta berdialog dengan pembuat karya terdahulu dan komunitas lokal, menjadi langkah krusial sebelum melakukan intervensi fisik.

Jadi sangat disayangkan, Festival Mbois 11 yang mengusung semangat ekonomi kreatif justru terjebak dalam kekurangpekaan terhadap karya yang sudah lebih dulu tumbuh.

Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi para pelaku industri kreatif, pengembangan ekosistem seni modern harus berjalan beriringan dengan rasa hormat terhadap sejarah dan nilai yang sudah mendahuluinya.

Merespons gelombang kritik tajam di media sosial, panitia Festival Mbois 11 melalui Koordinator Malang Creative Fusion (MCF), Dadik Wahyu Chang, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.

“Izin mewakili kawan-kawan panitia, kami ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya terkait tulisan ‘MALANG THE GLORY LAND’ yang sebelumnya sudah ada,” demikian pernyataan panitia.

Pihaknya mengakui nilai sejarah serta ikatan emosional di balik mural lama tersebut. Sebagai bentuk tanggung jawab moral, panitia berkomitmen untuk mengecat ulang dan mengembalikan tulisan “Malang The Glory Land” seperti bentuk aslinya.

“Insyaallah, tulisan ‘MALANG THE GLORY LAND’ akan kami cat dan buat kembali. Kami berharap semuanya dapat diselesaikan dengan komunikasi yang baik, kepala dingin, dan semangat kekeluargaan,” demikian isi pernyataan panitia.

Tak hanya itu, panitia juga membuka pintu bagi para seniman pembuat karya awal untuk terlibat langsung dalam proses restorasi.

Langkah pemulihan ini diharapkan tidak hanya meredam polemik, tetapi juga menjadi momentum berharga untuk merawat ruang publik Kota Malang melalui dialog yang sehat dan semangat kebersamaan. (gus)

Berita Terkait

Cozy Republic Rilis Single Terbaru Nuansa Roots Reggae “Semakin Yoman” Cerita Penuh Kebersamaan
CEO Muda Apresiasi Pers dan Veteran Warnai HUT TNI ke-81 Makin Bermakna
Polres Tulungagung Gencar Bongkar Arena Judi Sabung Ayam Dan Dadu
HUT ke-7 Media Lumbung Berita Santuni Anak Yatim Dan Kaum Duafa
Semarak Hari Jadi Jatim ke-81, Ribuan Peserta Meriahkan LPBB Dan Festival Anak
Rektor UIBU Nahkodai Y37 Periode 2026-2028: Siapkan Agenda Sinergi Alumni Dan Kesejahteraan Mantan Guru
Bakorwil Malang Percepat Infrastruktur Modangan Dorong Simpul Pertumbuhan Ekonomi
Dugaan Penipuan Berkedok Investasi, SPG di Malang Resmi Dipolisikan

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 19:15 WIB

Puluhan SDN Pasuruan Tidak Memiliki Kepala Sekolah Definitif

Senin, 5 Oktober 2026 - 18:44 WIB

CEO Muda Apresiasi Pers dan Veteran Warnai HUT TNI ke-81 Makin Bermakna

Senin, 5 Oktober 2026 - 18:29 WIB

Densus 88 Bongkar Latihan Menembak Kelompok Teroris 6 Provinsi

Senin, 5 Oktober 2026 - 11:26 WIB

Plt Bupati Tulungagung Hadiri Upacara HUT ke-81 TNI, Sinergi Jadi Kunci Kebersamaan

Senin, 5 Oktober 2026 - 10:42 WIB

HUT ke-7 Media Lumbung Berita Santuni Anak Yatim Dan Kaum Duafa

Minggu, 4 Oktober 2026 - 18:19 WIB

Pemilu 2029 PKB Tulungagung Bidik 11 Kursi, Regenerasi Kader Muda Jadi Prioritas

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:39 WIB

Pengukuhan Pengurus DPC PKB, Bupati Tulungagung Tekankan Sinergi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 10:57 WIB

Rektor UIBU Nahkodai Y37 Periode 2026-2028: Siapkan Agenda Sinergi Alumni Dan Kesejahteraan Mantan Guru

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page