Surahaya, pendoposatu.id — Cuaca buruk kembali mengganggu lalu lintas penerbangan di Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Pada Minggu sore (4/1/2025), pesawat Batik Air rute Jakarta (Halim Perdana Kusuma)–Surabaya yang ditumpangi KH Habib Mustofa Alaydrus dari Tuban gagal melakukan pendaratan dan terpaksa dialihkan (divert) ke Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM), Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Pesawat yang dijadwalkan mendarat di Juanda sekitar pukul 16.30 WIB tersebut tidak dapat melakukan pendaratan akibat kondisi cuaca ekstrem di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Faktor keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama pilot untuk tidak memaksakan pendaratan.
Akibat kondisi tersebut, pesawat melanjutkan penerbangan ke Lombok dan akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid pada pukul 17.57 WIB.

“Karena faktor cuaca, kami mendarat di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Lombok,” ujar salah seorang awak kabin Batik Air, sebagaimana didengar langsung oleh jurnalis senior Irham Thoriq yang turut berada di dalam pesawat.
Sebelum mengalami gagal mendarat di Surabaya, penerbangan Batik Air ini juga sempat mengalami keterlambatan (delay) selama hampir dua jam. Pesawat yang seharusnya lepas landas dari Bandara Halim Perdana Kusuma pada pukul 13.30 WIB, baru diberangkatkan sekitar pukul 15.30 WIB.
Di dalam pesawat tersebut, selain KH Habib Mustofa Alaydrus, turut terlihat Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak beserta istri. Seluruh penumpang dilaporkan dalam kondisi aman pasca pendaratan di Lombok.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari manajemen Batik Air terkait penyebab detail cuaca buruk maupun rencana lanjutan penerbangan menuju Surabaya. Pihak otoritas bandara juga belum mengeluarkan pernyataan tertulis mengenai kondisi meteorologi yang memicu pengalihan penerbangan tersebut.
Cuaca ekstrem yang terjadi di wilayah Jawa Timur belakangan ini kembali menjadi pengingat pentingnya aspek keselamatan penerbangan sebagai prioritas utama, meskipun berdampak pada jadwal dan kenyamanan penumpang.
Penulis : nes











