Malang, pendoposatu.id – Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah/2026 M tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan atau sekadar pengisahan perjalanan luar biasa Rasulullah. Lebih dari itu, Isra Mikraj harus menjadi peringatan serius bagi manusia modern yang hari ini menghadapi krisis akhlak di tengah kemajuan status sosial dan teknologi.
Hal tersebut disampaikan Ketua Komunitas Noto Roso Tumpang Kabupaten Malang, Habib Abdullah bin Idrus bin Agil Assegaf, dalam refleksi keagamaan pada momentum Isra Mikraj. Menurutnya, jika Isra Mikraj hanya dipahami sebagai cerita historis, maka anak kecil pun mampu menghafalnya. Namun, pesan terdalamnya justru terletak pada perubahan akal, hati, dan perilaku manusia.
“Isra Mikraj mengajarkan bahwa Allah mengangkat derajat manusia bukan karena harta, jabatan, atau popularitas, melainkan karena kejujuran hati dan ketaatan,” tegas Habib Abdullah di kediamannya, Sabtu (17/1/2026).
Ia menjelaskan, ukuran kemuliaan sejati tidak pernah ditentukan oleh apa yang tampak di mata manusia, melainkan oleh kualitas batin di hadapan Allah SWT. Bahkan, sebelum dimuliakan hingga Sidratul Muntaha, Rasulullah SAW terlebih dahulu mengalami luka batin di bumi—dicaci, dilempari, ditolak, dan dihina.
“Ini menegaskan bahwa kemuliaan tidak selalu berjalan beriringan dengan kenyamanan. Bahkan manusia paling mulia pun diuji secara sosial dan psikologis,” ujarnya.
Habib Abdullah menilai, pesan Isra Mikraj sangat relevan dengan kondisi masyarakat hari ini. Ia mengingatkan bahwa banyak orang mudah tersulut emosi hanya karena kritik ringan, menyimpan dendam karena cibiran, atau kecewa karena tidak mendapat pujian.
“Kalau baru sedikit dicibir sudah marah, baru dikritik lalu dendam, bisa jadi kita belum benar-benar memahami makna Isra Mikraj,” katanya.
Dalam refleksinya, Habib Abdullah juga menyoroti fenomena manusia modern yang mengalami paradoks moral: naik status tetapi turun adab, bertambah pengikut namun menurun kualitas salat, meningkat jabatan tetapi berkurang empati, serta semakin lantang bersuara namun miskin akhlak.
Menurutnya, Isra Mikraj membawa satu oleh-oleh utama yang sangat fundamental, yakni salat. Bukan zakat, bukan pula haji, melainkan salat yang menjadi terapi jiwa, penyeimbang ego, sekaligus pengendali sosial.
“Salat yang benar tidak berhenti pada gerakan fisik. Ia tercermin dalam sikap hidup—hati lebih tenang, lisan lebih terjaga, tangan ringan menolong, dan pikiran jernih,” jelasnya.
Ia mengingatkan, jika salat hanya menjadi rutinitas sementara kehidupan sehari-hari dipenuhi kebencian dan amarah, maka sejatinya yang naik hanyalah tubuh, sementara hati masih tertinggal di bumi.
Lebih lanjut, Habib Abdullah menegaskan bahwa peringatan Isra Mikraj seharusnya menjadi ruang bercermin, bukan ajang saling menunjuk kesalahan. Pertanyaan paling penting bukan siapa yang paling hafal kisah Isra Mikraj, melainkan siapa yang paling berubah akhlaknya setelah memahaminya.
“Sudahkah salat membuat kita lebih rendah hati? Sudahkah ibadah menjauhkan kita dari kebiasaan menghakimi? Sudahkah ilmu agama melembutkan hati, bukan justru mengeraskannya?” pungkasnya.
Ia menutup refleksinya dengan menegaskan bahwa hakikat Isra Mikraj bukan terletak pada narasi perjalanannya, tetapi pada transformasi akhlak manusia setelah mengetahui dan menghayatinya.
Penulis : nes











