Malang, pendoposatu.id – Sebuah kisah pilu mengetuk nurani publik. Seorang anak yatim piatu terpaksa mencuri uang dari kotak amal sebuah masjid megah yang selalu ramai jamaah. Uang itu bukan untuk kesenangan, melainkan untuk membeli sebungkus nasi demi bertahan hidup.
Ironisnya, masjid tersebut berdiri anggun tepat di samping gubuk reyot tempat anak itu tinggal. Di tengah limpahan sedekah dan rutinitas ibadah, masih ada perut kecil yang kelaparan.
Dalam tidurnya, setelah menghabiskan nasi bungkus yang ia beli dari uang hasil curian itu, anak tersebut terlintas sebuah pertanyaan sederhana namun menghantam batin: “Siapakah yang paling berdosa di antara mereka, ya Tuhan?”
Peristiwa ini tidak bisa dilihat semata sebagai tindakan kriminal. Lebih dari itu, ini adalah potret kegagalan empati sosial.
Jika sebuah masjid memiliki kas yang penuh, jamaah yang melimpah, dan bangunan yang megah, namun di sekitarnya masih ada anak yatim yang kelaparan, maka persoalannya bukan hanya hukum—melainkan moral kolektif. Anak itu memang bersalah karena mencuri. Namun ia tidak sedang rakus. Ia sedang lapar.
Sementara di sisi lain, ada kemungkinan sebagian jamaah merasa telah menunaikan kewajiban hanya dengan shalat dan sedekah simbolik, tanpa benar-benar peduli siapa yang hidup di sekeliling mereka.
Fenomena ini menyingkap realitas yang kerap luput disadari: Ada sedekah yang diberikan sambil dipamerkan, ada ibadah yang rajin namun minim kepedulian, ada masjid yang megah secara fisik, tapi miskin empati. Kesalehan yang berhenti pada ritual, tanpa kepedulian sosial, berisiko melahirkan ketimpangan.
Bahkan, dosa yang dibungkus ibadah sering kali lebih berbahaya, karena tidak terasa sebagai kesalahan.
Zakat, infak, dan sedekah sejatinya bukan sekadar pelengkap pahala, melainkan instrumen keadilan sosial. Ketika fungsi itu gagal dijalankan, maka rumah ibadah kehilangan makna substansialnya.
Kisah anak yatim piatu ini seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak.
Bukan untuk membenarkan pencurian, tetapi untuk mengingatkan bahwa kemiskinan ekstrem adalah kegagalan bersama.
Pertanyaannya kini bukan lagi soal siapa yang paling berdosa, melainkan: Di posisi mana kita berdiri dalam cerita ini?
Apakah kita merasa aman karena tidak mencuri, padahal membiarkan kelaparan di sekitar kita?
Apakah kita merasa cukup dengan ibadah, namun lupa bahwa kepedulian adalah perintah? Karena bisa jadi, anak itu mencuri karena lapar, sementara kita berdosa karena kenyang tapi lupa berbagi.
Penulis artikel: Ketua Komunitas Noto Roso Tumpang Malang, Habib Abdullah Bin Idrus Bin Agil Assegaf.
Penulis : nes











