Malang, pendoposatu.id – Setelah lebih dari satu tahun warga harus beraktivitas dengan akses terbatas akibat jembatan ambrol, Jembatan Madakaripura di Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, akhirnya kembali difungsikan. Infrastruktur penghubung Desa Sumberagung dan Desa Bandungrejo ini dibangun ulang oleh Pemerintah Kabupaten Malang melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga dan mulai digunakan kembali, Rabu (28/1/2026).
Kembalinya fungsi jembatan tersebut menjadi titik penting pemulihan konektivitas wilayah selatan Kabupaten Malang yang sebelumnya terdampak cukup serius oleh bencana alam pada akhir 2024. Selama jembatan tidak dapat dilalui, warga harus memutar melalui jalur alternatif yang lebih jauh dan berisiko, terutama saat musim hujan.
Bupati Malang menegaskan bahwa pembangunan ulang Jembatan Madakaripura merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memastikan akses dasar masyarakat tetap terjaga, khususnya di wilayah perdesaan yang rawan bencana.
“Infrastruktur seperti jembatan bukan sekadar bangunan fisik. Ia menjadi penghubung kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Ketika akses terputus, aktivitas warga ikut terganggu,” ujar Bupati Malang.
Menurutnya, ambrolnya jembatan pada akhir 2024 berdampak langsung pada kelancaran distribusi hasil pertanian, mobilitas pelajar, hingga akses masyarakat terhadap layanan publik. Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah menetapkan pembangunan ulang jembatan sebagai prioritas penanganan pascabencana.
“Dengan difungsikannya kembali jembatan ini, mobilitas warga menjadi lebih aman dan efisien. Kami berharap aktivitas ekonomi masyarakat bisa kembali bergerak dan tumbuh,” lanjutnya.
Bupati Malang juga menyoroti pentingnya peran infrastruktur dalam meningkatkan nilai tambah sektor pertanian dan UMKM desa. Akses yang lebih baik dinilai akan mempercepat distribusi hasil produksi warga ke pasar serta menekan biaya logistik.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa keberlanjutan manfaat jembatan sangat bergantung pada kesadaran bersama untuk menjaga dan merawat fasilitas yang telah dibangun.
“Pemerintah membangun, masyarakat ikut menjaga. Dengan begitu manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas PU Bina Marga Kabupaten Malang, Khoirul Isnaidi Kusuma, menjelaskan bahwa jembatan lama yang ambrol merupakan jembatan pelengkung dari pasangan batu dengan lebar sekitar dua meter. Saat bencana terjadi pada rentang November hingga Desember 2024, struktur jembatan rusak parah di sisi hulu sehingga tidak lagi layak dilalui.
“Kerusakan terjadi cukup serius pada satu sisi jembatan, sehingga harus dilakukan pembangunan ulang dengan spesifikasi yang lebih memadai,” jelas Khoirul, yang akrab disapa Oong.
Pada pembangunan kali ini, Pemkab Malang meningkatkan spesifikasi teknis jembatan. Lebar jembatan ditambah menjadi sekitar tiga meter, sementara akses jalan menuju jembatan diperlebar hingga 5,2 meter guna menunjang keselamatan pengguna jalan.
Selain itu, dilakukan pengecoran jalan jembatan sepanjang 41 meter, pembangunan dinding penahan tanah sepanjang 25 meter, serta saluran drainase sepanjang 17 meter untuk mengantisipasi kerusakan akibat aliran air saat musim hujan.
“Jembatan Madakaripura ini cukup vital karena menjadi jalur alternatif yang sering digunakan warga dalam aktivitas sehari-hari,” ujar Oong.
Untuk pembangunan jembatan tersebut, Pemkab Malang mengalokasikan anggaran sekitar Rp500 juta dari APBD tahun berjalan. Tidak hanya itu, pemerintah daerah juga menyiapkan anggaran tambahan sekitar Rp250 juta untuk rabat beton jalan di sekitar jembatan yang direncanakan dikerjakan pada tahun 2026 guna memperkuat akses menuju pusat aktivitas ekonomi warga, termasuk arah pasar.
Peresmian Jembatan Madakaripura dilakukan secara sederhana bersama masyarakat setempat melalui tumpengan, sebagai wujud rasa syukur atas kembali terbukanya akses yang selama ini dinantikan warga.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Malang menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi antara pemerintah desa, kecamatan, dan masyarakat, khususnya di wilayah selatan, agar infrastruktur yang telah dibangun tidak hanya berfungsi optimal tetapi juga terpelihara secara berkelanjutan.
Penulis : nes











