Malang, pendoposatu.id – Wakil Bupati Malang, Lathifah Shohib, kembali menegaskan pentingnya menjaga keberlangsungan pondok pesantren di tengah wacana dan penerapan sistem fullday school. Ia mengingatkan agar kebijakan pendidikan tidak justru melemahkan lembaga pendidikan keagamaan yang telah lama menjadi fondasi pembentukan karakter masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri Halalbihalal, HAUL, dan Haflah ke-25 Yayasan Al-Hidayah di Dusun Terongdowo, Desa Tirtomoyo, Kecamatan Pakis, Minggu (3/5/2026).
“Fullday school jangan sampai mematikan keberadaan pondok dan madrasah sebagai pilar pendidikan karakter,” tegas Lathifah di hadapan ratusan jamaah.
Ia menekankan, kebijakan pendidikan harus dijalankan secara bijak dengan tetap berlandaskan nilai-nilai luhur. Menurutnya, pendekatan terhadap anak tidak bisa lagi menggunakan pola lama, melainkan harus mengikuti perkembangan teknologi yang semakin pesat.
“Strategi pendampingan anak tidak bisa disamakan dengan masa lalu, harus adaptif terhadap perkembangan teknologi,” ujarnya.
Selain menyoroti sistem pendidikan, Lathifah juga mengajak orang tua untuk lebih aktif mengikuti perkembangan regulasi dan dinamika dunia pendidikan. Ia menilai pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, termasuk membaca Al-Qur’an melalui perangkat digital, merupakan bagian dari transformasi yang perlu diarahkan secara positif.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa komitmennya di dunia pemerintahan dan politik tidak terlepas dari upaya memperjuangkan sektor pendidikan agar semakin maju dan merata. Ia berharap kebijakan nasional benar-benar menyentuh kebutuhan lembaga pendidikan di daerah.
Menurutnya, berbagai program pemerintah seperti Tunjangan Profesi Guru (TPP), Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) PAUD, serta Program Indonesia Pintar merupakan bukti dukungan nyata bagi dunia pendidikan.
“Anggaran pendidikan minimal 20 persen harus dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas, termasuk pengembangan sekolah unggulan,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Fraksi PKB DPRD Kabupaten Malang, H. Abdulloh Satar, menilai kehadiran Wakil Bupati membawa harapan baru bagi penguatan pendidikan, khususnya lembaga swasta dan pesantren.
“Ada harapan besar beliau akan konsen pada dunia pendidikan dan memperhatikan program-program pendidikan swasta,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, hingga saat ini perhatian pemerintah terhadap pesantren masih belum maksimal karena terkendala regulasi. Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pondok Pesantren masih dalam proses fasilitasi gubernur sehingga belum dapat diimplementasikan secara penuh.
“Ketika Perda sudah disahkan, pemerintah daerah memiliki kewajiban untuk memperhatikan pesantren, termasuk dalam hal anggaran,” jelasnya.
Menurut Abdulloh, penerapan fullday school juga perlu mempertimbangkan kondisi wilayah, terutama di pedesaan yang memiliki sistem pendidikan diniyah pada sore dan malam hari.
“Kalau fullday diterapkan di desa, akan berdampak pada pendidikan diniyah yang sudah berjalan di lembaga swasta,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, Yayasan Al-Hidayah juga menggelar doa bersama untuk para leluhur, guru, dan tokoh masyarakat yang telah wafat. Acara ini melibatkan seluruh elemen jamaah, mulai dari wali santri hingga anggota majelis taklim yang aktif dalam kegiatan keagamaan.
Saat ini, jumlah santri di Yayasan Al-Hidayah tercatat sekitar 150 orang. Mereka menjalani pendidikan formal pada pagi hari, kemudian melanjutkan pendidikan diniyah pada sore hingga malam hari, sebagai bagian dari pembentukan karakter berbasis nilai-nilai keagamaan.
Penulis : nes











