Malang, pendoposatu.id — Rencana menggelar pertandingan panas antara Arema FC menghadapi Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan memicu penolakan keras dari keluarga korban Tragedi Kanjuruhan. Mereka menilai kebijakan tersebut berpotensi membuka kembali luka batin yang belum sepenuhnya pulih sekaligus mencerminkan kurangnya empati terhadap korban.
Gelombang penolakan disuarakan melalui aksi doa dan diam yang digelar Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan (YKTK) di area Gate 13 stadion, titik yang menjadi simbol kelam peristiwa 1 Oktober 2022.
Lokasi tersebut dipilih sebagai pengingat bahwa tragedi kemanusiaan masih menyisakan trauma mendalam bagi keluarga korban.
Ketua YKTK, Devi Atok, menegaskan bahwa rencana pertandingan berisiko tinggi di lokasi tragedi sangat melukai perasaan keluarga korban.
“Kami belum pulih sepenuhnya. Stadion ini bukan sekadar tempat pertandingan, tetapi ruang duka yang menyimpan kenangan pahit. Menggelar laga rivalitas tinggi di sini sama saja mengabaikan perasaan keluarga korban,” tegasnya.
Aksi tersebut juga mendapat dukungan dari mahasiswa Universitas Brawijaya yang turut hadir menyampaikan solidaritas. Poster bernada kritik dibentangkan, berisi pesan agar penyelenggara mempertimbangkan aspek kemanusiaan sebelum mengambil keputusan.
Selain doa bersama, perwakilan YKTK juga mendatangi Polres Malang untuk menyerahkan surat resmi penolakan. Dalam surat tersebut terdapat tiga poin utama, yakni trauma yang belum sembuh, kurangnya sensitivitas pihak penyelenggara, serta potensi risiko keamanan apabila laga tetap digelar.
Devi Atok menilai pertandingan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya memiliki tingkat kerawanan tinggi sehingga tidak tepat dilaksanakan di stadion yang masih menyimpan luka kolektif.
“Kami meminta semua pihak menghormati proses pemulihan keluarga korban. Jangan sampai kepentingan kompetisi justru memperparah trauma yang belum selesai,” ujarnya.
Informasi yang berkembang juga menyebutkan sebagian aparat keamanan yang pernah bertugas saat tragedi masih merasakan dampak psikologis. Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa situasi belum sepenuhnya kondusif untuk menggelar laga berisiko tinggi.
Jadwal pertandingan sendiri masih tercantum berlangsung pada 28 April 2026. Namun tekanan publik yang terus meningkat membuat keputusan akhir kini menjadi perhatian luas, apakah pertandingan tetap digelar di Stadion Kanjuruhan atau dipindahkan demi menjaga stabilitas keamanan serta menghormati sensitivitas keluarga korban. (*)
Penulis : nes











