Rembug Kebudayaan Kota Malang, Forum Pemantik Usulan WBTB

- Redaksi

Minggu, 15 September 2024 - 16:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Rembug Kebudayaan di Sekolah Budaya Tunggulwulung Kota Malang

Foto : Rembug Kebudayaan di Sekolah Budaya Tunggulwulung Kota Malang

PENDOPOSATU.ID, MALANG – Kota Malang yang memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) begitu tinggi, tentunya mempunyai kebudayaan dan kearifan lokal mulai dari seni, musik, tarian hingga kuliner yang terus terjaga hingga saat ini.

Namun, patut disayangkan ternyata Kota Malang masih belum memiliki Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Untuk itu, Isa Wahyudi salah satu budayawan Kota Malang menggagas Rembug Kebudayaan Kota Malang yang rencananya akan diadakan di 8 lokasi hingga Desember 2024 mendatang.

Sebagai pioner, dirinya memulai Rembug Kebudayaan di Sekolah Budaya Tunggulwulung (SBT) yang berlokasi di Jalan Sasando No 9 Kota Malang dengan mengusung tema Apa Kabar Kebudayaan Kota Malang, pada Jumat (13/9/2024) malam.

Pria yang akrab disapa Ki Demang tersebut mengatakan bahwa seniman dan budayawan butuh tempat, wahana atau forum yang menyampaikan segala macam kritik, persoalan-persoalan yang dihadapi kaitannya tentang budaya secara keseluruhan.

“Melalui Rembug Kebudayaan ini dikupas pembahasan yang berorientasi pada karya. Karya apa yang harus dilestarikan dan dikembangkan,” tuturnya.

Menurut anggota Tim Ahli Cagar Budaya tersebut, Kota Malang memiliki banyak karya. Hanya karya-karya itu masih minim dari perhatian.

“Salah satunya adalah Kota Malang masih minus WBTB. Ini kan problem, sementara daerah lain sudah punya WBTB, sebagai suatu kebanggaan terhadap warisan budaya,” jelasnya.

Dikatakannya, melalui kegiatan ini para budayawan berupaya, mengevaluasi dan menelusuri kenapa Kota Malang tidak punya WBTB sama sekali.

“Pernah mengajukan Boso Walikan itu ditangguhkan. Ada apa, kesalahannya dimana. Ini menjadi pemicu forum ini diadakan,” beber Ki Demang.

Menurut Ketua Forkom Pokdarwis Kota Malang ini, hal-hal yang menjadi WBTB harus diajukan sebagai WBTB jika memang konsisten dilakukan.

“Katanya Kota Malang menjadi pilot project di Indonesia. 10 Kota di Indonesia yang terpilih untuk menyusun PPKD (Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah). Tetapi, Kota Malang tidak punya WBTB. Ini kan ironi,” ucap Ki Demang.

Baca Juga :  Risma - Gus Hans Tawarkan Program Pengurangan Kemiskinan Dengan Cara Resik-Resik Anggaran APBD

Baginya, jika Kota Malang memiliki WBTB, maka ekosistem tentang kebudayaan terbentuk.

“Potensi tentang ekonomi, kepariwisataan dan kebudayaan itu akan muncul apabila sudah ada WBTB. Salah satunya adalah tarian. Bukan hanya tarian bisa juga kuliner atau tembang Macapat Malangan. Itu semua adalah potensi,” terangnya.

Jika di Kota dan Kabupaten memiliki kebudayaan yang sama, lalu diajukan sebagai WBTB. Bukanlah suatu persoalan.

“Kebudayaan itu kan lintas, tidak ada batas teritorial antara Kabupaten dan Kota. Adanya Gemeente itu kan baru saja. Namun ketika kesenian kebudayaan itu sudah ada dan terbangun sejak masa Kadipaten dulu. Apabila kesenian antara kota dan kabupaten berkembang. Itu warisan bersama,” ujar Ki Demang.

Ia mencontohkan Kethek Ogleng Pacitan diajukan sebagai WBTB. Kemudian, dalam waktu bersamaan Kethek Ogleng Wonogiri juga mengajukan WBTB. “Disetujui semua karena memang kebudayaan itu tidak mengenal zona,” jelasnya.

Untuk itu, pihaknya menggelar Rembug Kebudayaan lantaran dipicu  keresahan Kota Malang tidak memiliki WBTB.

Keterbatasan forum-forum yang serius menggarap tentang oto kritik terhadap kebudayaan di Kota Malang kan penting. WBTB tidak ada, Jika WBTB ada mampu menggerakkan ekosistem dalam berkesenian.

“Malang itu kaya, maka harus digali terus. Meskipun sudah ada PPKD, namun jika tidak digarap maka PPKD itu hanya berbentuk sebagai dokumen semata. Perlu adanya komunikasi untuk mendukung pelestarian kebudayaan,” tutur pegiat Kampung Budaya Polowijen tersebut.

Diadakannya diskusi keliling, sebagai bentuk membangun komunitas. “Rembug Kebudayaan ini menjadi forum milik bersama dengan temanya lebih ke yang tradisional,” tukasnya.

Sementara, pemangku Sekolah Budaya Tunggulwulung Kholik Nuriadi menyampaikan bahwa tujuan diadakan Rembug Budaya adalah untuk memfasilitasi pokok-pokok pikiran para penggiat budaya dan seniman. “Dengan berkumpul, ada pikiran-pikiran yang keluar bagaimana membangun Kota Malang dengan karakteristiknya,” tutur Kholik.

Baca Juga :  Asosiasi Pedagang Bakso di Kota Malang Siap Dukung Program ABADI di Peningkatan UMKM

“Dari hasil pemikiran tersebut, kami berharap  bisa dijadikan sebuah pijakan dalam pengambilan keputusan oleh pihak terkait demi kemajuan Kota Malang,” imbuhnya.

Selain itu, dirinya juga berharap agar para budayawan dan seniman Kota Malang bersatu untuk menyamakan persepsi tentang kemajuan Kota Malang lewat pintu seni dan budaya.

Gelaran Rembug Kebudayaan tersebut diisi dengan Sinau Aksara Jawa oleh Hendrik Reksa, Sinau Mocopat Malangan dengan narasumber Mbah Wito dan acara inti adalah Rembug Kebudayaan yang disampaikan sejarawan Kota Malang Dwi Cahyono serta suguhan tarian tradisional khas Malang.

Penulis : Yani

Editor : Dadang D

Berita Terkait

Jelang Seabad NU, Kota Malang Tunjukkan Toleransi Nyata Antar Umat Beragama
Operasi Keselamatan Semeru 2026, Polresta Malang Kota Perketat Ramp Check Bus dan Angkutan Umum
Kapolresta Malang Kota Silaturahmi dengan Keluarga Korban Kanjuruhan, Tegaskan Komitmen Pendekatan Humanis
Hari PMI 2025: The Alana Hotel Malang Gelar Donor Darah, Jumlah Peserta Membludak
APBD Kota Malang Susut, DPRD Ingatkan Bahaya Ketergantungan pada Dana Transfer
DPRD Kota Malang Apresiasi Semangat Warga Kota Lama dalam Gelar Karnaval Budaya
Fokus Pendidikan dan Revitalisasi Pasar Besar, DPRD Kota Malang Bahas Perubahan APBD 2025
Piala Wali Kota Malang 2025: Equestrian Jadi Wajah Baru Sport Tourism dan Ekonomi Kreatif
Berita ini 60 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 12 Februari 2026 - 22:23 WIB

Seleksi Terbuka JPTP Pemkab Malang 2026: 25 ASN Daftar, 11 Gugur Administrasi, 14 Lolos ke Tahap Asesmen Jatim

Kamis, 12 Februari 2026 - 19:46 WIB

Sekolah Unggulan Disorot, Merger SDN Tak Terhindarkan: DPRD Malang Ungkap Akar Masalah Pendidikan

Kamis, 12 Februari 2026 - 09:17 WIB

Akses Jalan Desa Purwoasri Tergenang, Drainase Baru Jadi Solusi Mendesak

Senin, 9 Februari 2026 - 18:43 WIB

44 Cabor Mengunci Arah, Darmadi Melaju Nyaris Tanpa Perlawanan di Bursa Ketua KONI Kabupaten Malang

Senin, 9 Februari 2026 - 15:09 WIB

Seleksi JPT Pratama Pemkab Malang Disinyalir Sekadar Formalitas, Pendaftar Minim hingga Nama “Pemenang” Sudah Beredar

Sabtu, 7 Februari 2026 - 20:31 WIB

Zia’ulhaq Resmi Maju Ketua KONI Kabupaten Malang, Klaim Dukungan Lebih dari Delapan Cabor

Sabtu, 7 Februari 2026 - 07:56 WIB

Wabup Malang Tegaskan Sekolah Terintegrasi Jadi Arah Kebijakan Pendidikan, 10 SMPN Disiapkan Jadi Pilot Project 2026

Jumat, 6 Februari 2026 - 18:01 WIB

Dispora Kabupaten Malang Digeledah Kejari, Kasus Dana Hibah KONI Masuk Fase Krusial

Berita Terbaru

Ket foto. Akses jalan depan Balai desa Purwoasri Kecamatan Singosari yang terendam air

Kabupaten Malang

Akses Jalan Desa Purwoasri Tergenang, Drainase Baru Jadi Solusi Mendesak

Kamis, 12 Feb 2026 - 09:17 WIB